Sumber : http://www.masrizky.com/2011/01/cara-curang-resto-jepang/
Cara Curang Resto Jepang
Resto jepang, makan di sana adalah impian saya sejak dulu. Jepang dan kulturnya yang disebarkan melalui media-media yang menarik – manga, anime, dorama – berhasil membuat orang di seluruh dunia tertarik pada segala kekhasan negeri mereka. Kebanyakan menikmati tontonan berbau jepang di televisi rupanya turut menggiring saya tertarik kepada makanan ala jepang yang selalu digambarkan menggugah selera.
Namun sayang seribu sayang, makanan jepang banyak yang haram. Restoran jepang seringkali menyertakan babi sebagai komposisi menunya. Sebagai seorang muslim, tentu saja hal ini membuat saya berpikir ulang unuk makan di resto jepang. Sampai sekarang pun hanya satu resto fastfood jepang saja yang menjadi langganan rutin saya, HokaHoka Bento. Hoka-Hoka Bento lah satu-satunya restojepang yang mengantongi serifikasi halal dari LPPOM MUI. Itu pun kalau tidak salah baru dimulai tahun 2007,sebab sebelum itu HokBen masih menggunakan bahan nonhalal dalam menunya.
Dalam kurun satu bulan ini saya membaca beberapa status kawan-kawan fb tentang aktifitas mereka di resto jepang. Tempat update status resto jepang biasanya di “Sushi Tei”, Senayan City. Padahal kawan-kawan saya yang apdet status itu muslim, bahkan ada yang aktivis islam. Well, rupanya kepahaman tentang kehalalan makanan perlu betul-betul diperhatikan.
Sushi, pada dasarnya adalah haram. Haramnya tidak terletak pada sushi itu sendiri, tapi pada sausnya. Sausnya mengandung mirin, sejenis khamr khas jepang. Di Jepang, mirin merupakan minuman keras sama halnya seperti bir atau wiski yang dikenakan pajak minuman keras dan pembuatannya juga memerlukan izin khusus. Sampai tahun 1996, mirin hanya bisa dibeli di toko yang mempunyai izin menjual minuman keras, tapi sekarang boleh dijual di mana saja dan penjual hanya memerlukan izin menjual mirin secara eceran.
Jadi bukan masalah sushinya mengandung babi atau tidak, namun memang sausnya yang haram. Walaupun pake daging non babi, asalkan pake saus ya…. haram. Kecuali mau makan sushi tanpa saus… ya… hambar mungkin…hehe. Sebenarnya dalam masakan, mirin bisa digantikan dengan air jeruk lemon yang dicampur gula, tapi ya itu… kurang “jepang”.
Kembali ke Sushi Tei. Setelah saya mencari di mbah Google tentang kehalalan Sushi Tei, saya temukan komentar di sebuah blog.
Begini isi komentar di blog itu yang saya kopas langsung dari sumbernya: rhalawa menulis on Aug 1, ’08
“sekali lalgi terima kasih pak atas respons nya.. Siang ini saya menghubungi restoran tersebut sesuai dengan saran bapak, awalnya mereka mengatakan halal, tetapi setelah saya tanyakan berbagai hal, akhirnya pegawainya kehabisan kata dan di forward ke supervisornya. Dari Informasi yang diberikan oleh supervisornya (Bpk Raymond?), ternyata mereka tidak halal pak alias haram. Memang mereka tidak menjual babi, tapi Bumbu2 nya masih menggunakan khamr yaitu sake dan mirin. Dan ini diakui sendiri oleh supervisornya. Mereka hanya “halal” kalau hanya dilihat dari Porknya saja. Kok bisa??? halal ya halal …. haram ya haram. no leveling or grading terima kasih pak.”
Sushi Tei, dan resto-resto jepang lainnya, seringkali dikunjungi oleh kaum muslim. Indikasinya, setiap hari ada saja perempuan berjilbab datang dan bersantap di resto-resto jepang. Dan parahnya, pengelola resto jepang melakukan pembiaran terhadap perempuan berjilbab – yang jelas-jelas menampakkan identitas keislamannya itu – untuk makan di restorannya. Tanpa peringatan apalagi larangan! Padahal mereka tahu ada khamr (sake dan mirin) di bumbu masakan mereka. Bahkan mereka seringkali menampilkan logo “no pork” untuk menjaring konsumen muslim, padahal ada barang nonhalal lain selain babi.
Memang sangat disayangkan kelakuan para pengelola resto jepang yang melakukan pembiaran konsumen muslim yang memiliki batasan halal dan haram untuk makan di resto mereka. Bahkan seolah mereka berusaha untuk menarikkonsumen muslim dengan menampilkan bahwa restonya “seolah-olah halal”.
Bagaimana jika ada resto jepang yang mengklaim sendiri kehalalan sajiannya? Hanamasa restoran buffet ala jepang yang menu utamanya Yakinuku dan Shabu-shabu, setahu saya menggunakan strategi ini. Mereka memasang tulisan halal di restorannya, sayangnya tulisan halal itu bikinan sendiri, bukan dari LPPOM MUI, jadi tanpa sertifikasi. Untuk restoran macam ini – yang mencantumkan logo halal sendiri – lebih baik dihindari.
Secara umum, masakan jepang kebanyakan menggunakan khamr sebagai campuran bumbunya. Jika kita kembalikan kepada kaidah umum itu, lebih baik kita tidak makan di resto jepang kecuali yang bersertifikat halal LPPOM MUI. Sangat aneh, jika resto besar macam Hanamasa ataupun Sushi Tei tidak mampu bayar biaya uji sertifikasi dari LPPOM MUI kecuali ada sesuatu yang memang tidak bisa dilabeli “halal” dalam bahan-bahan yang mereka gunakan.
Sebenarnya ada RUU yang mengatur tentang kewajiban sertifikasi halal LPPOM MUI, namanya RUU Jaminan Pangan Halal (RUU JPH). RUU JPH merupakan salah satu produk hukum yang belum selesai tahap pembahasannya di DPR sejak bulan Februari 2009. Rancangan Undang Undang ini dibuat dengan tujuan agar setiap produk yang beredar di Indonesia mendapatkan sertifikasi halal menurut hukum Syariah Islam. RUU ini rencananya disahkan pada akhir 2010 lalu, namun sampai sekarang tidak juga ada kabar beritanya.
Jika sudah tahu begini, cobalah berpikir ulang jika ingin makan di resto Jepang….
Saya dan si Ummi sampe sekarang masih mengidam-idamkan makan ramen, mi kuah ala jepang itu nampak begitu menggoda, ditambah berbagai info yang mengagung-agungkan kenikmatan masakan yang satu ini. Sejak kami mendaratkan kaki di Denpasar, setiap kali melihat resto ramen di pinggir jalan, terbitlah selera. Maklum saja, turis jepang menempati posisi ketiga dalam jumlah kunjungannya di Bali, tak heran beberapa resto jepang nongkrong di sini.
Namun apa daya, keinginan saya terhadap masakan jepang harus dipendam mengingat kehalalannya yang tidak terjamin. Untunglah sejak nopember 2010 lalu, akhirnya HokBen membuka cabangnya di Denpasar, jadi keinginan sedikit terobati, meskipun menunya ya itu-itu saja, namanya juga resto fastfood. Ah… penting halal dulu deh.
Dahulukan halal sebelum selera… insyaalloh slamet dunia akhirat…
Setan atau iblis adalah makhluk yg dikutuk Allah akan menghuni neraka jahannam selamanya. Mungkin kita sering bertanya2, kenapa Allah menghukum sedemikian berat padahal kesalahannya 'hanya' menolak sujud kepada Adam. Dan satu hal lagi, iblis mengakui kekuasaan dan keesaan Allah (tauhid). Saya juga pernah berpikir seperti itu dan inilah (insyaallah)jawabannya.
Sesungguhnya iblis itu luar biasa jahatnya dan manusia tidak akan bisa lebih jelek dari iblis. Kalau manusia sekarang berbuat segala macam kerusakan bahkan sampai mengingkari Allah sebagai Tuhan, itu karena manusia tidak pernah bertemu Allah, tidak tahu langsung kekuasaanNya, tidak pernah tahu surga dan neraka. Tapi iblis, dia sudah tahu semuanya, sudah tahu alam ghaib. Namun dgn luar biasanya dia membantah perintah Allah. Sudah begitu, waktu ditegur atau dihukum, bukannya bertobat, malah minta penangguhan sampai kiamat guna mencari teman sebanyak2nya dari jin dan manusia untuk menemani dia di neraka.
Secara sederhana kita analogikan saja seperti ini. Seorang bawahan di kantor cabang berani mencela kebijakan pucuk pimpinan di pusat karena dia tdk ketemu sang pimpinan, wajar krn dia tidak ketemu pimpinan, tidak paham tujuan kebijakan itu secara keseluruhan. Kalau dia ketemu langsung, tidak mungkin dia berani macam2. Manusia juga begitu, tidak patuh Allah terutama karena tidak tahu bagaimana sesungguhnya Allah, alam ghaib, dan akhirat. Kalau tahu, tidak mungkin dia berani. Ini sudah ditegaskan Allah dlm Qur'an dimana Fir'aun yg ngaku Tuhan, waktu sakaratul maut ditampakkan alam ghaib, langsung tobat. Tobat yg terlambat!
Jadi saudar2ku, jangan lagi kita guyon dengan mengatakan iblis minta pensiun karena merasa manusia sudah lebih jahat dari dia. Hati2 kalau bercanda!
Demikian sekelumit renungan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Segala kebenaran datangnya dari Allah dan bila ada kesalahan itu dari saya pribadi
Bioethanol adalah ethanol (ethyl alcohol / C2H5OH) yang diproduksi dari bahan nabati. Artinya, bahan bakar ini berasal dari sumber daya yang dapat diperbarui. Sehingga dapat diproduksi terus-menerus dan tidak akan pernah habis. Berbeda dengan bahan bakar fosil yang dapat habis suatu saat.
Untuk ujicoba, ethanol dibuat dari limbah pabrik gula yang difermentasi. Saat ini penggunaan bioethanol masih sebagai campuran bahan bakar bensin biasa, walaupun suatu saat nanti mungkin mesin khusus berbahan bakar ethanol murni akan diproduksi secara massal.
Bayangkan saja, ethanol yang juga merupakan komponen minuman keras bisa berguna mengurangi emisi karbon dari bahan bakar energi fosil yang selama ini kita gunakan. Sungguh suatu penemuan yang berguna bagi kehidupan manusia.
Kemungkinan pengoplosan bahan bakar masih tetap ada, meskipun berbahan dasar ethanol. Hanya saja pengoplosan tidak dilakukan antar bahan bakar untuk pertimbangan ekonomi sebagaimana kita ketahui selama ini, tapi kemungkinan dilakukan oleh orang yang gemar minum alkohol. Sehingga fungsi Bioethanol bukan saja sebagai bahan bakar kendaraan, tapi juga menjadi ‘bahan bakar’ bagi pengendaranya…
Sebagian kalangan menganggap alkohol diperlukan untuk menghangatkan badan khususnya di negara yang tidak beriklim tropis. Lucunya, di Indonesia yang merupakan negara tropis kita sering lihat orang-orang mengkonsumsi alkohol di siang bolong panas-panas sambil buka baju. Sebagian riset juga mengemukakan bahwa alkohol bisa berpengaruh positif pada jantung, penyakit darah tinggi, dan alzheimer.
Tapi hasil riset ini tidak bisa digeneralisasikan begitu saja. Alkohol yang baik bagi jantung ada dosisnya, penyakit darah tinggi hanya pada wanita muda, dan alzheimer pada sebagian kecil orang tua. Lagi pula, hasil penelitiannya belum/tidak betul-betul konklusif. Simpulannya, jauh lebih banyak aspek negatif dari penggunaan minuman beralkohol dibanding keuntungannya.
Perizinan Mendirikan SPBU Bioethanol
Untuk menghindari kemungkinan SPBU Bioethanol mempunyai fungsi ganda sebagai ‘Bar’, mungkin untuk perizinan mendirikan SPBU harus lebih ketat. Ini bertujuan agar tidak ada orang bodoh yang mau meminum bahan bakar yang dibeli dari SPBU Bioethanol. Bila perlu harus melibatkan MUI untuk sertifikasinya.. :-).
Secara teknis hal itu dapat dilakukan juga dengan penambahan aditif organoleptik kedalam Bioethanol, seperti bau dan rasa. Sehingga dengan mencium baunya saja orang tidak akan mau meminumnya.
Itulah teknologi. Kegunaan atau mudharatnya semua tergantung dari pemakainya. Apakah akan menjadi manfaat atau justru merugikan. Akan sangat sayang sekali jika Bioethanol ini hanya untuk memenuhi “kecanduan” kita terhadap minuman keras yang jelas-jelas merugikan…
Sumber :http://usahakuliner.blogspot.com/2008/10/bioethanol-manfaat-dan-mudharatnya.html
Akhir-akhir ini gencar iklan ataupun tulisan tentang kebaikan gandum, terutama pada makanan-makanan berbahan dasar tepung. Saya berkernyit kening, apa sih bedanya tepung gandumg dengan tepung terigu, kan dua-duanya sama-sama dari gandum? Mumpung ingat, saya langsung cari di internet, dan ini yang saya temukan dari yahoo answer. Ringkas, padat, namun cukup untuk 'mengobati' rasa penasaran saya. Semoga bermanfaat.
Tepung terigu adalah tepung yang dibuat dari biji gandum, jadi tepung terigu pada dasarnya sama dengan tepung gandum. Gandum = wheat, tepung terigu = wheat flour. Lain halnya bila perbandingan anda adalah antara tepung terigu dengan tepung gandum utuh (whole wheat flour). Tepung terigu dibuat dari bagian dalam gandum saja (disebut wheat endosperm) setelah membuang bagian luarnya yang keras dan banyak mengandung serat (disebut wheat bran) dan bagian paling kecil dari inti biji gandum yang mengandung banyak vitamin dan mineral (disebut wheat germ). Oleh karena itu tepung terigu cocok digunakan sebagai bahan dasar pembuat kue, mie dan roti karena kadar elastisitasnya yang lebih tinggi dari tepung gandum utuh. Sedangkan tepung gandum utuh adalah tepung yang diperoleh dengan cara menggiling seluruh bagian biji gandum secara utuh, yaitu endosperm, bran dan germ. Oleh sebab itu kandungan serat dalam tepung gandum utuh mencapai 3-4 kali tepung terigu dan lebih banyak mengandung nutrien.
Weekend kemarin saya dapat kesempatan jalan-jalan ke Thailand dari kantor. Sebenarnya agak kurang minat karena sebelum berangkat mesti ada acara performance show mewakili kanwil, ada nyanyi-nyanyi segala, dan itu saya tidak suka. Apalagi masih ditambah dengan sexy dancers dengan busana pantai. Tapi setelah acara itu terlewati saya fokus ke Thailand, apa kira-kira yang akan saya temui disana ya? Maklum, ini pertama kali saya pergi ke negeri orang.
Masuk di pesawat Thai Airways yang merupakan maskapai best three in Asia dan best five in the world, kesan saya biasa saja. Malah saya 'kebagian' pramugari yang cantik tapi tidak bisa tersenyum dan sepertinya ogah ngobrol atau berinteraksi dengan penumpang. Setiap kali menanyakan sesuatu, dia berbicara seperti robot. Seperti waktu menawarkan minum kopi atau teh, dia hanya bilang : “Coffee or tea?” tanpa ekspresi. Saya sebetulnya mengharap tawaran yang lebih bersahabat, seperti “Would you like coffee or tea, sir?”. Saya jadi iri pada baris kanan yang dilayani pramugara botak namun sangat ramah dan komunikatif. Satu yang baru buat saya, tawaran minuman keras! Sebagai muslim saya jelas menolak, namun beberapa teman lain yang juga muslim malah bersemangat dengan alasan coba-coba. I hate that!
Setelah perjalanan tiga jam yang dingin, sampai juga saya di Bangkok International Airport yang baru, Bandara Suvarnabhumi. Merasa akrab dengan kata-kata itu? Jangan heran, jaman dulu kebudayaan kerajaan budha Indonesia satu sumber dengan Thailand. Bandara ini dibangun pemerintah untuk menggantikan bandara internasional lama, Don Muang. Kapasitas Don Muang sebesar 14 juta penumpang per tahun tidak lagi memadai untuk menampung penumpang, maka dibangunlah bandara baru dengan kapasitas 24 juta penumpang per tahun. Saya kagum dengan bandara baru ini, luas, canggih, rapi, dan tentu saja, bersih. Sangat jauh dengan bandara Soekarno Hatta di Jakarta. Satu hal yang menarik perhatian saya, jalan di dalam bandara ini dirancang khusus agar dapat dilewati mobil khusus bandara, mirip mobil golf. Kegunaan mobil ini untuk mengantar dan menjemput penumpang yang mepet dengan jadwal keberangkatan pesawat. Jika ada penumpang yang baru masuk boarding sedangkan pesawat sudah hampir siap, petugas di bagian boarding akan menghubungi petugas di mobil untuk ‘melarikannya’ ke gate keberangkatan. Jadi tidak kita temukan lagi penumpang berlari-lari tergopoh-gopoh sambil menenteng tas menuju gate.
Setelah keluar bandara, kami seluruh rombongan naik bus yang telah dipersiapkan. Sejenak saya mengamat-amati suasana sekitar. Pandangan saya tertuju pada dua pria dan seorang wanita yang berjalan menghampiri temannya. Ketika bertemu, mereka saling bersalaman namun saat dengan wanita itu para pria tidak bersalaman namun saling mengatupkan tangan di depan dada, salam khas Thailand. Mengejutkan, negeri yang terkenal dengan industry sexnya, ternyata mempunyai budaya sehari-hari yang sopan. Saya kemudian teringat saat keluar dari pesawat, sang pramugara menyalami dengan hangat namun sang pramugari mengatupkan tangan di dada. Kebiasaan sopan tersebut makin kental tatkala ada seseorang teman pria yang mencoba merangkul tour guide wanita saat foto bersama, guide tersebut menolak dengan tegas sambil mengatakan kalau hal itu tidak boleh karena tidak sopan. Peserta tour kami yang wanita dan muslimah, malah tidak ada yang begitu.
Saat berkeliling kota, kami dijelaskan tentang cirri khas Bangkok. Salah satunya, disana sangat jarang orang membunyikan klakson jika tidak sangat penting dan mengancam keselamatan. Makanya walaupun macet, tidak ada satu suara klaksonpun yang terdengar. Juga ada bus gratis. Bus ini warnanya merah putih, tanpa AC. Sopir bus ini dibayar pemerintah dari pajak, sedangkan penumpangnya gratis semua. Ceritanya, dulu saat krisis tahun 2008, banyak pengangguran. Pemerintah kemudian mengadakan proyek bus gratis bagi masyarakat. Menurut saya, inilah contoh bentuk subsidi yang riil dan menyentuh langsung ke rakyat. Sang sopir mendapat pekerjaan, sedangkan masyarakat dapat pengangkutan gratis yang membantu mengurangi beban hidup mereka khususnya biaya transportasi. Bandingkan dengan slogan subsidi di Indonesia!
Sebenarnya keindahan Thailand, terutama alamnya, kalah jauh bila dibandingkan dengan Indonesia. Produk utama wisata Thailand adalah kuil dan istana raja. Kemudian dikembangkan dengan pasar terapung, wisata sungai, atraksi gajah, wisata kuliner, wisata belanja, dan belakangan … wisata seks. Saya sendiri mengamati, sungai di Bangkok pun biasa-biasa saja, tidak terlalu jernih dan rapi, bahkan Sepanjang sungai banyak rumah-rumah sederhana lengkap dengan jemurannya tetapi memang jauh dari kesan kumuh seperti di Jakarta. Begitu juga kulinernya, tidak terlalu jauh dengan Indonesia. Tapi mereka pandai mengemas dan memasarkannya, ditambah kondisi social keamanan yang mendukung. Slogan wisata mereka adalah Thaliand, The Land of Smiles. Maaf, untuk yang satu ini saya kurang sependapat. Sepanjang 4 hari di Thailand, saya jarang menemui orang tersenyum ramah menyapa. Mulai dari petugas bandara, petugas hotel, petugas tempat-tempat wisata, maupun pedagang-pedagangnya, tidak banyak yang tersenyum ramah menyapa kami. Sekali lagi, keramahan Indonesia masih jauh lebih hangat. Atau mungkin karena kami bukan bule? Entahlah, yang pasti saat kami pergi sendiri-sendiri, tidak bersama rombongan, para pedagang sering menawarkan dagangan dengan bahasa Thailand karena mengira kami sama-sama penduduk Thailand juga, he he.
Satu lagi, tentang raja Thailand, Bhumiphol keenam atau Bhumibol Adulyadej, sangat dicintai rakyatnya. Tour guide kami menjelaskan kenapa raja ini sangat dicintai rakyatnya. Bisa dibilang kejayaan Thailand sekarang ini adalah hasil perjuangan beliau. Raja ini sangat merakyat, manjauhkan diri dari kemewahan. Dulu saat muda, raja sering berkelana ke seluruh pelosok Thailand. Tidak jarang orang tidak tahu bahwa dia adalah raja Thailand. Jika dia menemukan sesuatu hal yang menonjol pada suatu daerah, dia akan mencari orang yang paling menguasai hal tersebut, dia akan membawa orang tersebut ke istana. Disana orang tersebut dilatih agar semakin ahli di bidangnya. Setelah selesai, orang tersebut dikembalikan ke daerahnya untuk membagi ilmunya kepada para penduduk disana. Dan itu semua dibiayai dengan uang dari kantong raja sendiri! Bukan dari kas Negara! Hasilnya, Thaliand sekarang terkenal dengan durian montong, jambu Bangkok, tarian khas, dan lain-lain. Lebih mengejutkan lagi ketika sang tour guide menceritakan buku favorit sang raja, Al-Qur’an dan hadits!! Rupanya sang raja mengambil prinsip-prinsip manajemen Negara dari kitab-kitab tersebut. Sebagai muslim dan berasal dari Negara yang mayoritas muslim, saya malu dengan kenyataan tersebut.
Itulah sekilas kesan saya tentang Thailand. Negeri yang mayoritas beragama Budha, namun dalam pemerintahannya jauh lebih Islami dibanding Negara Indonesia yang mayoritas beragama islam. Ironis….
Setelah lima hari pasca insiden yang disebut sebagian besar media massa sebagai tindak kekerasan ormas Islam tertentu terhadap pendeta dan jamaat HKBP, akhirnya Front Pembela Islam Bekasi Raya mengeluarkan sejumlah klarifikasi.
Di antara isi klarifikasi insiden yang akhirnya menyudutkan FPI sebagai tertuduh adalah sebagai berikut:
1. Selama dua puluh tahun, umat Islam Bekasi telah menunjukkan KETINGGIAN SIKAP TOLERANSI dan KEBESARAN JIWA terhadap Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dengan membiarkan jemaatnya melakukan kebaktian setiap Ahad di rumah tinggal seorang warga perumahan Mustika Jaya - Ciketing - Bekasi.
Dua puluh tahun, umat Islam Bekasi tidak pernah keberatan, apalagi usil dan mengganggu ibadah Jemaat HKBP di tempat tersebut.
Dua puluh tahun, umat Islam Bekasi tetap tidak protes dengan adanya Jemaat HKBP yang datang dari luar perumahan, bahkan luar Bekasi, ke tempat tersebut.
Namun, setelah dua puluh tahun, seiring dengan makin banyaknya Jemaat HKBP yang datang ke tempat tersebut dari berbagai daerah, maka Jemaat HKBP mulai tidak terkendali. Bahkan Jemaat HKBP mulai arogan, tidak ramah lingkungan, tidak menghargai warga sekitar yang mayoritas muslim, seenaknya menutup jalan perumahan untuk setiap kegiatan mereka, bertingkah bak penguasa, merusak tatanan kehidupan bertetangga, menciptakan berbagai problem sosial dan hukum. Puncaknya, HKBP ingin menjadikan rumah tinggal tersebut sebagai GEREJA LIAR.
Setelah dua puluh tahun, umat Islam Bekasi, khususnya warga perumahan Mustika Jaya - Ciketing, mulai gerah dan merasa terganggu dengan pola tingkah Jemaat HKBP yang semakin hari semakin arogan, bahkan nekat memanipulasi perizinan warga sekitar untuk GEREJA LIAR mereka.
Sekali pun kesal, kecewa dan marah, umat Islam Bekasi tetap patuh hukum dan taat undang-undang. GEREJA LIAR HKBP di Ciketing diprotes dan digugat melalui koridor hukum yang sah, sehingga akhirnya GEREJA LIAR tersebut disegel oleh Pemkot Bekasi. Tapi HKBP tetap ngotot dengan GEREJA LIAR nya, bahkan solusi yang diberikan Pemkot Bekasi untuk dipindahkan ke tempat lain secara sah dan legal pun ditolak.
2. HKBP menebar FITNAH bahwa umat Islam Bekasi melarang mereka beribadah dan mengganggu rumah ibadah mereka. Lalu secara demonstratif jemaat HKBP setiap Ahad keliling melakukan KONVOI RITUAL LIAR dengan berjalan kaki, dari GEREJA LIAR yang telah disegel ke lapangan terbuka dalam perumahan di depan batang hidung warga muslim Ciketing, dengan menyanyikan lagu-lagu gereja, tanpa mempedulikan perasaan dan kehormatan warga muslim disana.
Akhirnya, terjadi insiden bentrokan antara HKBP dengan warga muslim Ciketing pada Ahad 8 Agustus 2010, tiga hari sebelum Ramadhan 1431 H. Dalam insiden tersebut, dua pendeta HKBP sempat mengeluarkan PISTOL dan menembakkannya.
3. Di saat umat Islam Bekasi masih dalam suasana Idul Fithri, pada Ahad 3 Syawwal 1431 H / 12 September 2010 M, Pendeta dan ratusan Jemaat HKBP kembali melakukan provokasi dengan menggelar KONVOI RITUAL LIAR sebagaimana yang dulu sering mereka lakukan. Sehingga, terjadilah insiden bentrokan antara 200 orang HKBP dengan 9 IKHWAN WARGA BEKASI yang berpapasan saat konvoi. Peristiwa tersebut DIDRAMATISIR oleh HKBP sebagai penghadangan dan penusukan pendeta.
Media pun memelintir berita peristiwa tersebut, sehingga terjadi PENYESATAN OPINI. Akhirnya, banyak anggota masyarakat menjadi KORBAN MEDIA, termasuk Presiden sekali pun.
4. Peristiwa Ahad 3 Syawwal 1431 H / 12 Sept 2010 M, BUKAN perencanaan tapi insiden, BUKAN penghadangan tapi perkelahian, BUKAN penusukan tapi tertusuk, karena 9 warga Bekasi yang dituduh sebagai pelaku adalah IKHWAN yang sedang lewat berpapasan dengan KONVOI RITUAL LIAR yang dilakukan 200 HKBP bersama beberapa pendetanya di lingkungan perkampungan warga muslim Ciketing. Lalu terjadi perkelahian, saling pukul, saling serang, saling tusuk dan saling terluka.
Pendeta dan jemaat HKBP yang dirawat di Rumah Sakit dibesuk pejabat tinggi, mendapat perhatian khusus Presiden dan Menteri, namun siapa peduli dengan warga Bekasi yang juga terluka dan dirawat di Rumah Sakit? Bahkan salah seorang dari 9 warga Bekasi tersebut, justru ditangkap saat sedang dirawat di sebuah Rumah Sakit akibat luka sabetan senjata tajam HKBP.
Karena itu, mari gunakan LOGIKA SEHAT : Jika peristiwa tersebut PERENCANAAN, mana mungkin 9 ikhwan melakukannya secara terang-terangan dengan busana muslim dan identitas terbuka! Jika peristiwa tersebut PENGHADANGAN, mana mungkin 9 orang menghadang 200 orang, apa tidak sebaliknya?! Jika peristiwa tersebut PENUSUKAN, mana mungkin 9 ikhwan lebam-lebam, luka, patah tangan, bahkan ada yang tertusuk juga !
5. Soal PENON-AKTIFAN Ketua FPI Bekasi Raya oleh DPP-FPI bukan karena salah, tapi untuk melancarkan roda organisasi FPI Bekasi Raya yang teramat BERAT tantangannya, sekaligus meringankan beban tugas sang Ketua yang sedang menghadapi UJIAN BERAT dalam menghadapi tuduhan dan proses hukum. Jadi, putusan tersebut sudah tepat.
6. Ketua FPI Bekasi Raya, baru disebut-sebut namanya saja oleh pihak kepolisian, sudah dengan gagah langsung menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya secara sukarela didampingi DPP-FPI untuk diperiksa. Dan siap menjalani proses hukum bila dinilai bertanggung-jawab dalam insiden Bekasi, walau pun beliau tidak ada di lokasi kejadian. Bandingkan dengan SIKAP PENGECUT Pemred Palyboy Erwin Arnada yang melarikan diri dari VONIS DUA TAHUN PENJARA yang sudah ditetapkan Mahkamah Agung sejak 29 Juli 2009.
7. Bagi segenap pengurus, anggota, aktivis, laskar dan simpatisan FPI dari Pusat hingga ke Daerah, bahwa Ketua FPI Bekasi Raya adalah PEJUANG bukan pecundang. Beliau TIDAK ADA DI LOKASI kejadian saat peristiwa. Beliau hanya kirim SMS AJAKAN kepada umat Islam untuk membela warga Ciketing beberapa hari sebelum peristiwa, tapi dituduh sebagai provokator, sedang Para Pendeta HKBP yang mengajak, membawa dan memimpin massa Kristen serta memprovokasi warga muslim dengan KONVOI RITUAL LIAR, tak satu pun diperiksa.
Dahlan Iskan: Soal Sepele dengan Pertaruhan Jabatan
Inilah CEO's note edisi ke-9 yang untuk menuliskannya tidak perlu mikir. Ini gara-gara e-mail curhat seorang karyawan yang dikirim ke beberapa rekannya pertengahan bulan Ramadan lalu. Salah satu alamat cc e-mail tersebut untuk saya sehingga saya ikut membacanya. E-mail itulah yang kemudian mendapat reaksi luas, bersahut-sahutan, dari karyawan lainnya.
Saya terus mengikutinya dengan seksama. E-mail itu lantas saya teruskan ke semua direksi PLN. Mereka pun ikut menanggapi. Lalu lintas e-mail antar karyawan itulah yang menjadi bagian pertama CEO's note kali ini. Sedangkan tanggapan para direktur saya tempatkan di bagian berikutnya.
Inilah CEO's note dadakan karena sudah harus terbit pada akhir Ramadan. Agar berkahnya masih kuat. Setidaknya, agar momentumnya masih nyambung. Setidaknya lagi, agar begitu bulan puasa lewat, apa yang dimaksudkan dalam CEO's note ini langsung bisa dilaksanakan di semua kantor PLN di seluruh Indonesia.
Sebenarnya, sudah banyak pimpinan cabang PLN yang menerapkan peraturan ini lebih dulu dari pusatnya, tapi masih sporadis. Beberapa pimpinan cabang PLN memang ikut mengeluhkan pengapnya kantor pusat saat mereka datang ke Jakarta.
Saya sendiri, di tempat saya yang lama (Jawa Pos,Red), pernah mengeluarkan peraturan seperti ini. Jadi, bagi saya tidak ada masalah. Hasilnya juga sudah terbukti sangat baik. Karena itu, kalau sekarang saya dituntut karyawan PLN untuk mengeluarkan ketentuan yang sama, ibaratnya asu rindhik digitik. Seperti orang lapar tiba-tiba disuruh makan xia fei.
Bahkan, ketentuan yang pernah saya buat di tempat saya yang lama itu lebih keras. Larangan tersebut mula-mula hanya berlaku di ruang kerja. Lalu, berhasil diperluas ke seluruh gedung. Dua tahun berikutnya lebih keras lagi: Karyawan yang tidak memedulikan larangan itu tidak boleh memegang jabatan struktural.
Terakhir, larangan tersebut berbunyi: Barang siapa masih melakukannya, tunjangan kesehatannya (biaya pengobatannya) dihapuskan! Untuk apa memberikan tunjangan kesehatan kalau dia sendiri dengan sengaja mengorbankan kesehatannya!
Kebetulan, semua direksi saya waktu itu tidak ada yang begitu. Setidaknya, sudah tidak melakukannya lagi sebelum jadi direktur. Itu sebuah kebetulan yang hebat. Sekarang pun, tidak seorang pun direksi PLN yang melakukannya. Jadi, pasti, peraturan ini akan bisa ditegakkan dengan keras.
Saya perhatikan, di mana-mana, termasuk di anak-anak perusahaan tempat saya dulu bekerja, ketentuan seperti ini sulit dilaksanakan karena satu alasan: di antara pimpinannya sendiri ada yang melakukannya. Bahkan, sebagaimana bisa dibaca dalam kutipan e-mail di bawah nanti, ada salah seorang direksi PLN yang di tempat lamanya dulu, di sebuah unit PLN, kerasnya melebihi saya. Di samping ada juga yang lucunya sangat mengabunawas. Yakni, seorang direktur yang aslinya Surabaya dan memang alumnus ITS.
Maka, untuk meneruskan berkah Ramadan itu, ketentuan ini mulai berlaku di PLN sejak hari pertama masuk kerja pasca-Lebaran. SK direksinya sudah diterbitkan awal September lalu. Sebetulnya saya malu. Mengeluarkan ketentuan begini saja kok menghabiskan masa jabatan hampir delapan bulan. Kesannya seperti pimpinan yang tidak tegas.
Perusahaan-perusahaan maju di seluruh dunia sudah lama menerapkannya. Kalau tidak segera dibuat, kesannya, di bidang ini pun PLN ketinggalan jauh. Untung ada e-mail berikut ini. Bisa menjadi pemicu awal ketentuan baru ini:
***
Bulan Ramadhan memang bulan penuh rahmat. Hikmah Ramadhan kali ini tak hanya membekaskan hikmah-hikmah spiritual, tapi juga yang lain. Setelah beberapa hari memasuki Ramadhan aku merasakan kelapangan tersendiri memasuki ruang kerja.
Ya, dada ini begitu lapang, lega, dan nyamaaaannn.
Tidak seperti hari-hari sebelum Ramadhan.
Semenjak kepindahanku ke PLN Pusat ini lima bulan yg lalu, dada begitu sesaknya. Bahkan sudah semenjak pagi buta, saat baru keluar dari pintu lift sekali pun.
Bahkan terkadang aku malu saat punya tamu, dan mereka melihat kantor PLN-ku yang megah dan ber-AC tapi penuh dengan asap rokok.
Ya, di hari kelimabelas Ramadhan hikmah besar ini aku rasakan. Hilanglah sudah bekas-bekas asap rokok. Rupanya perlu 15 hari tersendiri untuk menghilangkan sisa-sisa asap rokok itu.
Dada menjadi begitu lapaaaang. Beraktivitas pun menjadi lebih bersemangat. Terasa sebuah kebersamaan hakiki: bekerja sehat adalah milik bersama.
Alhamdulillah.
Lalu.
Adakah ini bisa berlanjut sesudah Ramadhan? Selamanya? Adakah bekerja sehat ini akan berhasil kembali menjadi milik kita?
Aku enggak tahu, apakah hanya aku yang enggak tahan dengan asap itu?
Aku engga tahu, apakah aku yang terlalu menuntut hakku agar udara kamar kerjaku bersih? Aku enggak tahu, apakah merokok di ruang AC memang sudah dibenarkan? (sesuatu yg tidak aku dapati di unit-unit yang telah kulalui).
Aku juga enggak tahu, apakah 'hanya' untuk bekerja sehat diperlukan SK DIREKSI?
Kang Supri, banyak orang menonjolkan ego dan urat sarafnya, hanya karena sebatang rokok. Kalau diingatkan bahwa merokok itu mengganggu kesehatan... banyak yang menjawab yang tidak merokok pun banyak yang mati duluan. Astaghfirullah.
Kalau orang luar negeri datang ke kantor kita, mereka merokoknya keluar gedung. Atau ke ruang khusus tempat merokok. Yakni saat rapat break 10-15 menit... kemudian balik dan lanjut kerja. PLN sudah lama punya buku COC (code of conduct,Red) dan sudah naik cetak edisi yang baru. Tapi kayaknya hanya akan menjadi etalase berikutnya kalau tidak diimplementasikan.
Hanya waktu yang akan menjawab... apakah PLN bangkit... atau sebaliknya. Ini hampir terjadi di seluruh PLN. Lebih gawat lagi mereka juga masih merokok di kamar kecil alias WC. Maaf ini hanya mengungkapkan ketidakberdayaan saya melihat kondisi ini. Semoga masih ada waktu untuk menikmati hari-hari kerja TANPA ASAP ROKOK di luar bulan Ramadhan. (Tri Prantoro, perencanaan korporat PT PLN).
***
Kok sama ya. Ini juga kegelisahan saya. Saya pernah masuk ke salah satu ruang Kadiv (kepala divisi). Uh! Bau asap rokok. Yang juga berat adalah: banyaknya puntung rokok di sekitar kita. Saya sudah minta bagian umum untuk mengadakan pos penerimaan puntung rokok setelah Lebaran nanti. Dengan imbalan Rp 1.000/puntung.
Kalau memang aspirasi untuk sehat dari para karyawan sedemikian kuatnya, ok. Go! Kita tingkatkan upaya melarang merokok di ruang kerja ini. Yang masih melakukannya kita minta memilih: pilih tetap merokok di ruang kerja atau meninggalkan jabatannya! Setelah Lebaran mulai kita berlakukan.
(Dahlan Iskan).
***
Luar biasa... Dirut seperti ini yang kita harapkan... yang mampu menyehatkan karyawannya. Kegelisahan kawan-kawan semua ini sebenarnya juga dirasakan oleh sebagian besar kaum perempuan. Hanya, umumnya tidak mau protes. Tapi, dari beberapa kali saya komunikasi dengan pegawai/outsourcing wanita di PLN, sebenarnya mereka juga keberatan. Hanya tidak mau ribut saja. Pilih diam.
Sebenarnya sudah ada peraturan tentang hal ini yang bisa dijadikan pedoman termasuk sanksi-sanksinya. Hanya, masalahnya apakah pimpinan kita secara kolektif mau menjalankan apa tidak. Sudah terlalu banyak aturan di negeri ini... tapi yang kita harapkan sebenarnya pada tataran pelaksanaannya.
Kalau kita perhatikan Perda dan Pergub DKI, yang punya kewajiban menegakkannya bukan hanya perokok, tapi juga pimpinan perusahaan dan pegawai secara umum. Pasal-pasal dalam perda tersebut tidak dimuat di sini. Intinya, perokok di dalam ruangan kerja bisa dimasukkan penjara. (Endro Yulianto).
***
From: Manu Sukendro
Jika seorang tukang ojek merokok sehari 1 bungkus, maka sebulan telah membakar tembakau Rp 300.000. Setahun Rp 3.600.000. Dalam 10 tahun Rp 36.000.000. Padahal, jika uang sebesar Rp 10.000 dishadaqahkan, Allah menggantinya sebesar 10x, atau sebesar 700x, atau tak terhingga tergantung keridhaan-Nya. Tergantung tingkat keimanan dan ketaqwaan seseorang.
Katakan balasan dari Allah sebesar 700x, seorang tukang ojek yang mau bershadaqah setiap hari (hadist shahih mengatakan bershadaqah wajib setiap hari), maka Allah akan memberikan ganjarannya per hari Rp 10.000 x 700 = Rp 7.000.000, sebulan Rp 210.000.000, setahun Rp 2.520.000.000, atau 10 tahun Rp 25.200.000.000.000.
Balasan rizki dari Allah bisa berupa harta yang mendatangkan keberkahan, istri, anak-anak yang saleh dan saleha, shadaqah dapat memadamkan panas kubur, shadaqah dapat menjadi naungan di Padang Mashar, dll. (Muh. Manu S.).
***
Terima kasih pencerahannya. Mari kita sama-sama menyesuaikan diri dengan aturan yang ada, dengan niat ibadah. (Iskandar, divisi perbendaharaan).
***
Aku pernah ikut seminar di Gedung Serbaguna di Pusdiklat PLN di Ragunan, a few years ago. Tiba-tiba Pak Nur Pamudji (sekarang menjabat direktur energi primer PLN) dengan gagahnya mengambil mic dan berkata: ''Karena ruangan seminar ini ber-AC, mohon peserta seminar yang merokok di ruangan ini diminta keluar oleh panitia'' (demikian kira2 kalimat yg saya ingat). Bahkan, ada yg cerita ke saya bahwa beliau mencabut rokok dari mulut seseorang yg sedang merokok di dalam ruangan Jawa Bali Control Center di Gandul. (Helmi Najamuddin).
***
Pak Eddy (direktur SDM), setelah saya mengamati aspirasi karyawan yang beredar di e-mail mereka, saya ikut menanggapi: Lain kali ruang Kadiv jangan diberi pintu, agar mereka jangan menutup pintu dengan alasan untuk merokok! Dalam e-mail itu saya kemukakan bahwa siapa yang merokok di ruang kerja akan kita suruh memilih: merokok atau berhenti dari jabatan/status karyawan. Mohon disiapkan SK, dengan sanksi yang benar-benar kita tegakkan (saya sendiri bersedia jadi polisi). (Dahlan Iskan).
***
Besok saya akan mulai menyiapkan aturan tersebut lengkap dengan sanksi disiplinnya, begitu pula prosedur pengendalian & penegakan GCG (termasuk pembuatan/pengelolaan situs whistle blower). (Eddy Erningpramaja, direktur SDM)
***
Aku sedih... manakala ingatanku kembali pada dua orang bulik/tanteku, orang2 yang aku dekat dengan mereka... Mereka sakit, mereka berbulan-bulan batuk, mereka sesak napas, menderita... Mereka terkena kanker paru2, dan akhirnya mereka tidak kuat...
Mereka bukan perokok, mereka setiap hari... dipaksa menghirup asap rokok. Orang bilang... mereka perokok pasif. Bulikku yang satu terpaksa kerja di satu ruangan... di kantornya... yang isinya orang-orang yang.... semuanya perokok.
Bulikku yang satunya lagi, suaminya perokok berat. Dia habiskan waktunya... bercengkerama, makan, tidur dengan suaminya yang tidak pernah lepas dari rokok... Aku pikir.... mereka ini, bulik-bulikku, sejatinya para korban orang-orang yang kurang peduli...
Duh Gusti... ampunilah dosa2 bulik-bulikku itu... Juga, limpahkan kasih-MU bagi yang lain, yang tidak berdaya, para korban perokok. Duh Gusti... berilah petunjuk kepada orang-orang yang kurang peduli itu...
Duh Gusti... terima kasih dan puji syukur... aku haturkan. Nyatanya... Engkau telah berikan kekuatan padaku dan kawan2ku untuk jadikan bilik, lorong, selasar, dan ruang-ruang majelis tempatku bekerja... terbebas dari kurang peduli. (Murtaqi Syamsuddin, direktur bisnis dan manajemen risiko)
***
Saya sudah merokok sejak kelas 5 SD. Maklum anak kolong. Puncaknya waktu tugas di Aceh Tengah selama 4 tahun, 96-99. Maklum udara sangat dingin dan tiap hari stres krn GAM. Bisa 3 bungkus sehari! Kretek lagi. Saya 3x usaha berhenti. Kali pertama dan kedua berhenti dgn niat krn batuk dan nggak enak badan... gagal total karena 6 bulan kemudian krn badan mantap terus merokok lagi.
Kali ketiga berhenti tahun 2005. Alasan? Nggak ada. Berhenti saja. Sukses sampai hari ini. Supaya terus sukses saya mendukung 100% larangan merokok. Nggak usah bikin ruangan khusus merokok atau apa pun. Nggak ada gunanya. Di bandara gagal! Nggak usah pake alasan kesehatan atau ditakut-takuti pake gambar tengkorak segala, percuma! Pokoknya tidak boleh saja. (Nasri Sebayang, direktur perencanaan dan teknologi)
***
Waktu saya Kabag Operasi di Control Center Gandul tahun 2000, saya berlakukan larangan merokok di Gedung Operasi Gandul. Alasannya: ''Bahaya Kebakaran'' (habis gimana, pangkat cuma kepala bagian, di atas masih ada kepala dinas dan kepala divisi di gedung yang sama, jadi musti cari alasan yang kuat).
Alasan yang sebenarnya adalah saya tidak mau jadi perokok pasif seperti buliknya Pak Murtaqi. Sebab, di Gandul, asap rokok beredar melalui saluran AC sentral. Larangan ini mendapat dukungan luas, sampai kepala divisi pun (Pak Gultom) yang berkantor di gedung itu nggak berani melanggar (Pak Gultom alumnus Inggris, jadi paham benar soal sopan santun merokok). Mereka yang melanggar, saya cabut rokoknya dari mulutnya, nggak peduli atasan atau bawahan (saya dulu dijuluki ''Madura'' karena galak banget soal rokok ini).
Tahun 2005, GM P3B JB (Muljo Adji) mengeluarkan larangan merokok di semua gedung P3B JB dan masih berlaku sampai sekarang. Kalau Dirut mengeluarkan larangan merokok itu, dukungan akan datang dari 99,999% pegawai PLN. Karena sesungguhnya yang merokok ini sedikit sekali, tapi mereka mendominasi, seolah-olah itu kebebasan mereka. Next turn, larangan merokok harus masuk surat pernyataan ketika rekruitmen dan perjanjian kerja bersama. Setuju dengan Pak Nasri, nggak usah dibuatkan tempat merokok. Pokoknya DILARANG. Titik. (Nur Pamudji)
***
Wah... aku setuju 1000%. Bagiku, mending bau kentut daripada bau rokok. Kentut gak jelas pelakunya dan gak bisa dilarang... Kalo perokok, pelakunya jelas... Larang aja! (Bagiyo, direktur pengadaan strategis).
***
Bismillah! Ramadan kali ini kita kenang sebagai bulan pemicu larangan merokok di ruang kerja di seluruh PLN!
Mohon maaf lahir batin. (*)
Dahlan Iskan, CEO PLN
Sumber : http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=155960
Saat saya kuliah di Indiana University untuk mendapatkan MBA dalam business management, saya pergi ke sebuah tempat camping dan peristirahatan di White Water, di negara bagian Wisconsin, bersama belasan rekan sesama mahasiswa yang berasal dari berbagai bidang studi.
Ada seorang rekan mahasiswa S3 dari Jerman yang belajar Quantum Physics. Dia seorang ilmuwan yang super cerdas dan setia kepada logika yang akurat.
Suatu ketika dia melihat saya sembahyang Maghrib. Dia menunggu saya selesai, dan langsung mengatakan: Mario, I never knew that you were primitive. Saya tidak pernah menduga bahwa kamu masih primitif.
Mengapa?, tanya saya.
Dan dia menjelaskan bahwa orang-orang primitif di jaman dulu juga berdoa seperti saya.
Apakah dengan primitif, berarti saya salah?, terus saya.
Dia kemudian menjelaskan dengan logikanya, bahwa perilaku berdoa kepada sesuatu yang tidak ada untuk mengharapkan keajaiban, adalah perilaku orang-orang primitif, yang tidak mampu berpikir dengan logika yang jernih, dan yang tidak berilmu.
Lalu, dengan sikap yang menghormati kekuatan logikanya, saya bertanya: Apa yang membuatmu demikian yakin bahwa Tuhan tidak ada?
Dia menjawab dengan cool; Tuhan tidak ada, karena Tuhan tidak bisa dideteksi dan diukur. Jika kita bisa mendeteksi dan mengukur keberadaan fisik Tuhan, maka kita bukan hanya yakin – tetapi bahkan TAHU bahwa Tuhan ada.
Emmm … saya membiarkan beberapa jenak berlalu dengan santun, sebelum saya membuka langkah pengujian saya terhadap logika rekan saya ini;
Jurgen, demikian namanya, jadi kamu akan menerima keberadaan sesuatu yang bisa dideteksi dan diukur, dan jika tidak - maka kamu menolak keberadaannya, bukankah begitu?
Of course!, dengan gaya bijak yang mungkin ditirunya dari salah satu profesornya.
Lalu saya teruskan, apakah ada hal-hal yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya, karena belum ada alat deteksi dan alat ukur-nya?
Dia menjawab cepat; Oh pasti!, tentu saja banyak materi di alam ini yang belum kita ketahui, karena kita belum memiliki alat untuk mendeteksi dan mengukurnya, Mario. And that’s a simple logic!, dia melihat saya dengan wajah seorang guru yang kasihan kepada muridnya yang lambat mengerti.
Oooh … (saya memulai penerbangan ke Nagasaki dengan sebuah bom atom di perut pesawat pembom saya) …
Jadi sebagai seorang ilmuwan, Jurgen tidak akan dengan semena-mena mengatakan sesuatu itu tidak ada, jika ia tidak bisa dideteksi dan diukur karena alat untuk itu belum ada?
Ya pasti dong?! Itu khan bertentangan dengan logika dan obyektifitas saya sebagai seorang pemikir yang logis.
Lalu, dengan suara selembut mungkin dari wajah yang sepengasih mungkin, saya bertanya;
Jurgen, apakah alat untuk mendeteksi dan mengukur Tuhan sudah ada?
Dia bilang dengan santai; … belum …
Saya teruskan; … lalu, jika alatnya belum ada, jika alat untuk mendeteksi dan mengukur Tuhan itu belum ada, mengapakah Jurgen bisa dengan pasti mengatakan bahwa Tuhan tidak ada?
Dia terdiam sejenak, lalu dia berbicara dengan kelurusan dan ketegasan seorang ilmuwan;
Kamu betul, Mar. Tidak obyektif bagi saya untuk mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, karena kita belum memiliki alat untuk mendeteksi dan mengukur Tuhan.
Jadi apa sikap terbaikmu mengenai hal ini, Jurgen?
Sikap terbaik saya adalah menunda keputusan apakah Tuhan itu ada atau tidak.
Apakah sikap itu sebanding dengan ragu-ragu, karena belum pasti?, tanya saya hati-hati.
Dia bilang, dengan sangat fair: Ya.
Lalu saya sampaikan dengan keramahan yang harus dihadiahkan oleh seorang beriman kepada saudaranya yang sedang menemukan keimanan;
Jurgen, selamat datang. Bagi seseorang yang tadinya menolak keberadaan Tuhan, ‘meragukan keberadaan Tuhan’ adalah langkah awal untuk meyakini keberadaan-Nya.
Dari sanalah, kamu akan menemukan logika keimanan yang jauh lebih utuh dalam ke-abstrakan-nya, akurat dalam keluwesannya, dan tegas dalam kenyataan hukumnya.
Dia hanya mengangguk.
Lalu kami bergabung dengan belasan rekan mahasiswa dari kampus saya di Indiana University – Bloomington, yang juga berasal dari berbagai negara dan keimanan.
Kami makan malam dengan kemeriahan dan kegaduhan para lelaki muda yang positif dan berpandangan besar dan kuat mengenai masa depan.
Malam itu saya ditugasi untuk menyalakan api unggun, dan menjaga agar nyalanya tetap besar dan menghangatkan kami di malam musim dingin itu.
Di setiap kesempatan camping, saya selalu menjadi petugas api unggun, karena menurut mereka saya bisa berbicara kepada api. The man who can talk to fire. :)
Saat suasana lengang karena kami semua sudah berbaring untuk beristirahat di dini hari itu, saya mendengar suara seseorang yang seperti sedang terserang masuk angin yang akut.
Itu Jurgen. Dia masuk angin.
Saat bangun pagi, saya hampiri dia dan saya tanyakan kabarnya di pagi bersalju yang bersih dan indah itu, dan dia berkata;
I was really sick last night, Mario. Not because of anything, but because I was trying to accept your reasoning on God as objectively as I could. Rearranging what you have been believing as true for years, is not easy. But I did it. Thank you.
And you were and are right, that I should hold my judgment about God’s existence. I cannot rule that he is non existent, as long as I cannot disprove his existence.
Saya sangat sakit tadi malam, Mario. Bukan karena apa-apa. Tetapi karena saya berusaha menerima alasanmu mengenai Tuhan dengan se-obyektif mungkin. Menata ulang apa yang telah kau yakini sebagai yang benar selama bertahun-tahun, bukanlah sesuatu yang mudah. Tetapi saya telah melakukannya. Terima kasih.
Dan kamu benar, bahwa saya harus menahan untuk tidak membuat kesimpulan apa pun mengenai keberadaan Tuhan. Saya tidak dapat memutuskan bahwa Tuhan itu tidak ada, selama saya tidak bisa membatalkan keberadaannya.
Saya menyalaminya dengan hati yang sepengasih mungkin.
Jurgen, welcome to faith. Selamat datang di keimanan.
Dari Anas dan Qatadah, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya beliau melarang seseorang minum sambil berdiri, Qotadah berkata:”Bagaimana dengan makan?” beliau menjawab: “Itu kebih buruk lagi”. (HR. Muslim dan Turmidzi) bersabda Nabi: Dari Abu Hurairah, “Jangan kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaknya ia muntahkan !” (HR. Muslim)
Dari hasil browsing sana sini, saya menemukan bahwa didalam tubuh kita ada semacam saringan (nama saringan itu sfringer atw suatu struktur maskuler yg berotot) yg hanya akan ngebuka kalo dalam posisi duduk, so.. klo kita minum berdiri, air akan langsung masuk ke kandung kemih tanpa disaring (tanpa melalui pos-pos penyaringan yg berada di ginjal), sedangkan air kan ga 100 % bersih (dalam skala molekuler) akibatnya limbahna ngendap di kandung kemih yg bisa menimbulkan penyakit kristal ginjal.
Truz menurut Ibnul Qoyyim, afat (akibat buruk) klo kita minum sambil berdiri, maka tdk d4 memberikan kesegaran pada tubuh secara optimal, karena air yg masuk akan cepat turun ke organ tubuh bagian bawah. Sedangkan air yg dikonsumsi seharusnya ditampung dulu dalam maiddah (lambung) yang ntar slanjutnya mesti dipompa oleh jantung buat disalurin keseluruh organ-organ tubuh kita. Nagh klo gene, air kagak bakal menyebar ke organ-organ tubuh yg lain, sedangkan tulang-tulang mengandung air sebanyak tiga puluh sampai empat puluh persen, sebagian besar darah terdiri dari air dimana terdapat larutan bahan-bahan selain sel-sel darah. Akibatnya bilamana pembuangan air dari dalam tubuh lebih besar daripada pemasukannya, terjadilah dehidrasi. Begitu juga kadar air dalam jaringan tubuh diatur dengan tepat. Jika terdapat selisih sepuluh persen saja maka gejala-gejala serius akan timbul. Kalau selisih ini mencapai dua puluh persen maka orangnya akan mati.
Hadits-hadits Yang Membolehkan Ternyata setelah ditelurusuri baik-baik di beberapa kitab hadits, kita menemukan juga hadits-hadits yang sekiranya malah membolehkan makan dan minum sambil berdiri. Dan hadits itu juga kuat dari segi sanadnya. Antara lain:
Dari Ibnu Abbas beliau mengatakan, “Aku memberikan air zam-zam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau lantas minum dalam keadaan berdiri.” (HR Bukhari no. 1637, dan Muslim no. 2027)
Hadits yang mengisahkan rasulullah minum berdiri bisa saja tidak bertentangan dengan hadits larangan, mengingat yang diminum tersbut air zam zam yang telah dijamin Allah sebagai air terbaik di muka bumi. Tapi ini prasangka saya pribadi lho ya, jangan dijadikan landasan
sumber : http://lovely1930.multiply.com/journal/item/3 plus tambahan dari beberapa komentar dan komentar saya sendiri.
sumber : http://rasuldahri.tripod.com/articles/kka1_dua.htm
Bahaya Nifak
Kertas kerja ini telah dibentang di majlis Forum Ramadan anjuran Masjid al-Khair Singapura. Majlis diadakan pada 24hb Dec. 2000, jam 10.45 malam yang dipengerusikan oleh Yang Berbahagia Ustaz Ahmad Dahlan. Anggota penal terdiri dari penulis dan Yang Berbahagia Dr. Johari Mat dari University Malaya, Malaysia. Penulis mengucapkan ribuan terima kasih kepada pihak Masjid al-Khair, para Imam, Tuan Pengerusi Masjid, Ahli-Ahli Jawatankuasa Masjid, mereka yang terlibat dan kepada penyelaras Forum Ramadan Encik Mohammad Salleh Mohd Som yang sudi menjemput penulis dalam majlis tersebut. Semoga semua kegiatan dan usaha suci mereka sentiasa diberkati, dirahmati, diredhai Allah Azza Wa-Jalla dan juga semoga sentiasa berjaya. Tak lupa juga ucapan terima kasih kepada Persatuan Muhammadiyah yang telah berurusan dengan pihak Masjid al-Khair untuk melibatkan penulis dalam forum yang telah dimudahkan oleh Allah perjalanannya sehingga mendapat kejayaan. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى اَشْرَفِ اْلاَنْبِيَاءِ والْمُرْسَلِيْنَ ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ. BAHAYA NIFAK Bermulanya sejarah dan munculnya orang-orang munafik yang pertama di kalangan umat Islam ialah setelah Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam berhijrah ke Madinah. Semasa di Mekkah (zaman Mekkah) tidak wujud orang munafik sama ada secara individu atau kelompok, kerana hanya ada dua golongan sahaja semasa Nabi menyebarkan dakwah Islamiyah di Mekkah, iaitu: Pertama: Golongan kaum muslimin yang kebanyakannya merahsiakan keimanan mereka demi untuk menyelamatkan Islam, iman dan dirinya dari tindakan orang-orang kuffar (musyrikin). Kedua: Golongan atau kaum kuffar musyrikin yang kuat penentangannya terhadap orang-orang yang beriman. Contoh yang dibawakan oleh sejarah tentang orang-orang munafik ialah peranan Kabilah Aus dan Khazraj serta orang-orang yang mengikuti mereka. Mereka adalah golongan munafik pertama muncul di Madinah, kemudian mereka mengumpulkan dan menghasut orang-orang di Madinah menjadi munafik seperti mereka kerana benci dan sakit hati diatas kemenangan kaum Muslimin dalam peperangan Badar. Golongan munafik ini diketuai dan dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Sallul yang menjadi ketua kabilah Kahzrah. Beliau pernah dinobatkan oleh orang-orang Yahudi sebagai raja di Yathrib (Madinah) tetapi terhalang dan tidak berjaya setelah kedatangan Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wa-sallam sehingga menggagalkan rancangannya menguasai Madinah. Kegiatan nifak beliau dibantu oleh kawan karibnya Abdullah bin Ubay. ________________________________________ DEFINISI NIFAK Nifak dalam Bahasa Arab di ambil dari akar kata (kata dasar) (نفق اليربوع) yang bererti "Lubang Tikus", ini kerana kebiasaannya tikus mudah menampakkan jalan masuk ke lubangnya namun tidak menampakan jalan keluarnya. Maka ia memberi maksud: "Menampakkan dan melahirkan sesuatu kemudian menyembunyikan (merahsiakan) lawannya".[1] Antara kalangan ulama muktabar yang telah mendefinisikan nifak ialah Imam Ibn Kathir rahimahullah. Menurut beliau nifak ialah: اِظْهَارُ الْخَيْرِ وَاِسْرَارُ الشَّرِّ "Melahirkan yang baik dan menyembunyikan (merahsiakan) yang buruk.[2] Ibn Juraij rahimahullah pula mendefinisikan nifak sebagai: المنافق يخالف قوله فعله وسره علانيته ومدخله مخرجه ومشهده مغيبه
"Si Munafik itu bertentangan perkataannya dengan perbuatannya, yang dirahsiakan dengan yang berterang-terangan, yang di dalam (hati)nya dengan luarannya dan yang dipersaksikannya dengan yang disembunyikannya".[3] Menurut pendefinisian Ibn Qaiyim rahimahullah pula bahawa nifak ialah: "Nifak itu ialah penyakit yang memenuhi anggota dalaman seseorang yang tidak disedari olehnya. Kerana nifak adalah urusan yang tersembunyi pada manusia. Cara kebanyakan yang menyembunyikan nifaknya ialah dengan bermuka-muka sebagai seorang pelaku kebaikan sedangkan dia adalah seorang yang pembuat kerosakan".[4] ________________________________________ NIFAK TERBAHAGI DUA Menurut Ibn Qaiyim lagi, nifak itu terbagi dua: Pertama: Nifak Akbar, "Nifak Besar" atau nifak akidah (iktiqad) yang menyebabkan pelakunya jika tidak bertaubat sebelum meninggal dunia dia akan dikekalkan di dalam neraka.[5] Di neraka pula Si Munafik ini akan ditempatkan di neraka yang paling terbawah (kerak neraka).[6] Boleh diertikan juga bahawa nifak akbar ialah: “Merahsiakan kekufuran dalam hati dan melahirkan keimanannya dengan lisan dan perbuatan (amalan)”. Antara contoh-contoh nifak akbar (nifak besar) ialah: 1. Mendustakan apa yang disampaikan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam sama ada sebahagian atau keseluruhannya. Seperti menolak dan mendustakan bahawa hadis-hadis sahih (as-Sunnah) tidak perlu dipakai lagi dan cukup hanya dengan mengambil al-Quran sahaja. 2. Mempermain-mainkan, memperlekeh atau menghina sebahagian dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam. Seperti menghina penutupan aurat bagi wanita mukminah, menghina akhlak Islamiyah atau memperlekeh dan menghina perlaksanaan hukum-hukum Allah Azza wa-Jalla yang alasannya hanya semata-mata bertujuan untuk mempermain-mainkan agama Allah. 3. Membenci Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam sama ada dengan tindakan, ucapan, sindiran atau hasutan. Seperti menuduh bahawa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam sebagai seorang sayhwani (gila sex atau kaki perempuan). 4. Merasa gembira dan senang dengan kejatuhan Islam dan senang dengan kemenangan kuffar atau menolong (membantu) musuh dengan apa cara sekalipun dalam usaha menghancurkan Islam, memerangi umat dan Daulah Islamiyah. 5. Membenci ajaran yang dibawa oleh Rasulullah sallallahu 'alaih wa-sallam atau menentangnya sehingga menghalang-halangi dakwah dan kelancaran perjalanannya sebagaimana firman Allah: رَاَيْتَ الْمُنَافِقِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْكَ صُدُوْدًا “Nescaya kamu lihat orang-orang munafik menghalang-halangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya”. An-Nisa, 4:61. Kedua: Nifak Asghar (اصغر),[7] "Nifak kecil" atau nifak amali iaitu salah satu dari dosa-dosa besar yang paling besar. Namun pembuatnya tidak akan dikekalkan di dalam neraka. Dinamakan nifak kecil ialah apabila perbuatan seseorang nampak jelas berbeza dengan apa yang telah disyariatkan oleh syara. Antara contoh-contoh nifak kecil ialah: (1). Mudah dan suka berdusta dalam ucapan atau perkataannya sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam al-Quran dan sabda Nabi Muhammad sallallahu 'alihi wa-sallam: وَاللهُ يَشْهَدُ اِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ لَكَاذِبُوْنَ “Dan Allah mengetahui bahawa sesungguhnya orang-orang munafik benar-benar orang pendusta (pembohong)”, Al-Munafiqun, 63:1.
"Sesungguhnya dusta itu mengarah kepada kemaksiatan, kemaksiatan mengarah kepada neraka. Sesungguhnya seseorang itu akan terus berdusta dan sentiasa mencari celah dusta sehingga ia dicatit di sisi Allah sebagai pendusta". (2). Tidak menepati janji sebagaimana sabda Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam: وَاِذَا وَعَدَ اَخْلَفَ "Dan apabila berjanji ia tidak menepatinya" (3). Mengkhianati amanah sebagaimana larangan Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam dari melakukan pengkhianatan: وَلاَ تَخِنُ مَنْ خَانَكَ "Janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianati kamu" (4). Curang atau keluar dari peraturan akhlak Islamiyah apabila berlaku pertengkaran atau ikhtilaf (berselisih faham), misalnya berkata bohong dalam menjelaskan perkara yang sebenar atau melebih-melebihkan permasalahan dengan segala kebohongan dan penipuan. Rasulullah bersabda: آيَةُ الْمُنَافِقِ اَرْبَعٌ : اِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَاِذَا وَعَدَ اَخْلَفَ وَاِذَا خَاصَمَ فَجَرَ وَاِذَا عَاهَدَ غَدَرَ
"Tanda-tanda munafik itu empat: Apabila berkata ia dusta, jika ia berjanji tidak menepatinya, apabila bertengkar ia berlaku curang dan apabila berjanji dia berkhianat". (5). Gemar menipu (penipuan) sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam: اِنَّ الْغَادِرَ يُنْصَبُ لَهُ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُقَالُ : هَذِهِ غَدْرَةُ فَلاَنِ بْنِ فُلاَنٍ
"Sesungguhnya setiap penipu akan dipancangkan baginya sebuah bendera dan dikatakan ini adalah penipuan si Fulan anak si Fulan". H/R Bukhari (5710) Al-Adab.
________________________________________ Ancaman Allah & Rasulnya Terhadap Penyakit Nifak Kepada Manusia Allah mengancam orang-orang munafik dan yang berpenyakit nifak dengan azab yang amat pedih iaitu dengan api neraka Jahanam sebagaimana firmanNya: بَشِّرِ الْمُنَافِقِيْنَ بِاَنَّ لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا “Khabarkanlah kepada orang-orang munafik bahawa mereka akan mendapat siksaan yang pedih”. An-Nisa, 4:138.
“Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam”. An-Nisa, 4:140.
وَعَدَ اللهُ الْمُنَافِقِيْنَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا هِيَ حَسْبُهُمْ ، وَلَعَنَهُمُ اللهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيْمِ “Allah mengancam orang-orang munafik lelaki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka dan Allah melaknati mereka dan bagi mereka azab yang kekal”. At-Taubah, 9:68.
لِيُعَذِّبَ اللهُ الْمُنَافِقِيْنَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوْبَ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَكَانَ اللهُ غَفُوْرًا رَحِيْمًا “Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik lelaki dan perempuan dan orang-orang musyrikin lelaki dan perempuan dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukminin lelaki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Al-Ahzab, 33:73. Bagi orang yang beriman, pasti akan merasa takut, gerun dan mengerikan gambaran siksa dan azab api neraka Jahanam yang pedih yang diceritakan oleh Allah di dalam firmanNya. Semuanya itu telah disediakan untuk Si Munafik. Allah tidak akan mungkir janji, orang-orang munafik pasti akan celaka di dunia dan di akhirat akan mendapat azab yang pedih. ________________________________________ SOALAN: Apakah amalan menggolongkan sesetengah puak sebagai munafik atau ahli nifak merupakan perbuatan yang menggalak sikap berwaspada atau merupakan perbuatan yang bahaya? JAWAPAN: Menggolongkan sesetengah puak sebagai munafik atau nifak bukanlah perbuatan yang bahaya dan salah menurut syara. Di dalam al-Quran, Allah Subhanahu wa-Ta’ala telah menggolongkan manusia kepada tiga golongan, segolongan darinya terdiri dari orang-orang munafik sebagaimana yang terdapat penyusunan ayat dan pembahagiannya di surah al-Baqarah: Pertama: Empat ayat memperkatakan golongan orang-orang beriman. Kedua: Dua ayat memperkatakan tentang golongan orang-orang kafir. Ketiga: Tiga belas ayat memperkatakan tentang golongan orang-orang munafik. Ayat yang memperkatakan perihal Si Munafik melebihi yang lain agar orang-orang beriman mengenal perangai, sikap, perbuatan dan juga agar berwaspada terhadap kejahatan mereka. Mereka (Si Munafik) gemar membuat fitnah, banyak melakukan kejahatan dan fasad, mudah menyamar semasa bergaul bersama masyarakat Islam dan mereka sentiasa merancang kejahatan dan kerosakan terhadap orang-orang Islam. Nifak adalah perbuatan yang tersembunyi yang tidak boleh dikesan dengan cepat dan mudah. Orang munafik lebih merbahaya dari orang kafir terhadap akidah, kekuatan dan kesatuan jamaah umat Islam kerana kekufuran adalah perbuatan yang nampak (kelihatan) dan mudah diketahui. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahawa semasa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam di Madinah barulah muncul orang-orang munafik. Namun, Allah Subhanahu wa-Ta'ala telah menyingkap tirai Si Munafik dan membuka rahsia-rahsia kejahatan dan kefasadan mereka. Itulah sebabnya semua ayat-ayat yang membongkar tentang rahsia-rahsia kejahatan orang-orang munafik semuanya turun di Madinah sehingga surah tersebut dinamakan Surah Madiniyah. Sebagaimana firman Allah: وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُوْلُ آمَنَّا بِاللهِ وَبِالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ ، يُخَادِعُوْنَ اللهَ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا وَمَا يَخْدَعُوْنَ اِلاَّ اَنْفُسَهُمْ وَمَايَشْعُرُوْنَ
"Di antara manusia ada yang mengatakan kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian, pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sedar".[8] Fenomena nifak, cerita tentang pakatan dan gerakan jahat ketua-ketua munafik semuanya bermula setelah wujudnya negara Islam Madinah. Ia berterusan sehingga mula terbitnya unsur-unsur perpecahan gara-gara fitnah orang-orang munafik juga bermula di Madinah. Begitu juga membiaknya aliran-aliran sesat dan pemecah-belah umat yang terdapat sama ada di negara-negara Islam atau bukan negara Islam dari dahulu sehingga sekarang semuanya berpunca dari fitnah yang dicipta oleh orang-orang munafik. Mereka ingin menghancurkan Islam dan umatnya setelah negara Islam menjadi kuat dan meluas. Berkata Ibn Abi Hatim radiallahu 'anhu: "Mereka (orang-orang munafik) mudah melahirkan ucapan (لا اله الا الله) kerana inginkan agar terselamat darah dan harta mereka, tidak ada niat mereka selain yang demikian."[9] Berkata Sa'id dari Qatadah: "Sifat-sifat orang munafik itu banyak: Buruk akhlaknya, jika benar lisannya namun bertentangan dengan hatinya, amat bertentangan amalannya kerana diwaktu pagi ia melakukan yang benar dan diwaktu petang pula ia melakukan yang sebaliknya".[10] Paling jelas sifat orang-orang munafik adalah pendusta. Allah Subhanahu wa-Ta’ala berfirman: وَاللهُ يَشْهَدُ اِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ لَكَاذِبُوْنَ "Dan Allah bersaksi bahawa sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang pembohong (pendusta)". Al-Munafiqun, 63:1 Sifat orang munafik itu penipu. Firman Allah: يُخَادِعُوْنَ اللهَ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا "Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman" Orang munafik tidak termasuk orang yang beriman: وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ "Dan sebenarnya mereka (orang-orang munafik) bukanlah orang-orang yang beriman". Orang munafik berpenyakit hati: فِى قُلُوْبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللهُ مَرَضًا "Dalam hati mereka ada penyakit lalu ditambah Allah penyakitnya".
Orang munafik pembuat kerosakan di dunia: اَلاَ اِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُوْنَ وَلَكِنْ لاَ يَشْعُرُوْنَ “Ingatlah! Mereka itulah orang-orang yang membuat kerosakan, tetapi mereka tidak sedar". Orang munafik adalah orang yang bodoh tetapi mereka tidak tahu dan menyedari tentang kebodohannya: اَلاَ اِنَّهُمْ هُمُ السُّفُهَاءُ وَلَكِنْ لاَّ يَعْلَمُوْنَ "Ingatlah! Sesungguhnya mereka orang-orang yang bodoh tetapi mereka tidak tahu". Orang munafik tergolong dalam golongan syaitan: وَاِذَا خَلَوْا اِلَى شَيَاطِيْنِهِمْ قَالُوْا اِنَّ مَعَكُمْ اِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِؤُوْنَ
"Dan apabila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanya berolok-olok". Sifat orang-orang munafik suka mengolok-olokkan, memperlekeh (mempermain-mainkan) agama Allah: اِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُ وْنَ "Kami hanyalah berolok-olok". Sifat atau sikap orang munafik tidak ada pendirian dan terumbang-ambing: فِى طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ "Mereka terumbang-ambing dalam kesesatan". Orang-orang munafik membeli (mengambil) kesesatan (bid'ah kekafiran dan kesyirikan) dengan meninggalkan petunjuk sunnah (keimanan), mereka tidak akan berjaya dalam perniagaan mereka: اُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوْا الضَّلاَلَةَ بِالهُدَى فَمَارَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوْا مُهْتَدِيْنَ "Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perningaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk". ________________________________________ [1]. Lihat: المدخل لدراسة الاسلامية على مذهب اهل السنة والجماعة tajuk Nifaq. Dr. Ibrahim al-Buraikan. [2]. Lihat: Tafsir Ibn Kathir. 1/76. [3]. Ibid. [4]. Lihat: صفات المنافقين hlm. 15. Al-Maktabah al-Islami. Cetakan ke 4. Beirut. Ibn Qaiym al-Jauzi. [5]. Lihat: Tafsir Ibn Kathir 1/67. [6]. Ibid. [7]. Ibid. [8]. Surah al-Baqarah, 2:8-9. [9]. Lihat: Tafsir Ibn Kathir, 2/88. [10]. Ibid.
Belum pernah dalam sejarah Islam di Akhir Zaman kita merasakan keterasingan dari ajaran Islam sebagaimana yang kita alami dewasa ini. Kepemimpinan dunia dewasa ini diarahkan dari Barat yang notabene merupakan Judeo-Christian Civilization (Peradaban Yahudi-Nasrani). Segenap negeri kaum muslimin mengekor ke Barat. Keadaan ini telah di-Nubuwwah-kan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sejak dulu:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian pasti akan mengikuti mereka." Kami bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka?" (MUSLIM - 4822)
Dalam hal budaya misalnya, berbagai pesta hari ulang tahun dirayakan dengan menghamburkan uang dan memuaskan nafsu syahwat. Seolah kita lupa akan pesan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang berbunyi:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perbanyaklah mengingat saat diputusnya hubungan dengan kelezatan (yakni kematian)." (AHMAD - 7584)
Kaum muslimin yang merayakan pesta seperti itu seolah meng-copy-paste perilaku kaum Yahudi Bani Israil yang digambarkan di dalam Kitabullah:
”Masing-masing mereka (Bani Israil) ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS Al-Baqarah 96)
Contoh lain taqlid budaya ialah apa yang disebutkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di dalam hadits berikut ini:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat: … (2) dan wanita-wanita berpakaian, tetapi sama juga dengan bertelanjang, berjalan dengan berlenggak-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga. Padahal bau surga itu dapat tercium dari begini dan begini." (MUSLIM - 3971)
Saudaraku, marilah kita gigih mengajak anak gadis dan isteri kita untuk menutup aurat dengan jilbab sebagaimana Allah perintahkan. Janganlah kita biarkan mereka menebar aurat di muka lawan jenis bukan muhrimnya. Sebab wanita yang menebar aurat tidak saja melanggar aturan Allah, tetapi mengajak orang lain turut bermaksiat.
Dalam hal keuangan, misalnya kita setiap hari disuguhi via sms di handphone tawaran untuk menerima pinjaman dengan skema kredit alias bunga alias riba. Tidak sedikit kaum muslimin yang tenang-tenang saja hidup dari memakan uang riba. Mereka seolah lupa bahwa dosa riba bukanlah termasuk dosa kecil, melainkan dosa besar. Sedemikian besarnya dosa ini sehingga Allah-pun mengancam dengan ancaman yang sangat hebat.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (QS Al-Baqarah 278-279)
Sungguh benarlah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ketika memprediksikan salah satu tanda Akhir Zaman yaitu:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Benar-benar akan datang kepada manusia suatu zaman, tidak seorang pun dari mereka kecuali akan memakan riba. Dan barangsiapa tidak memakannya, maka ia akan terkena debunya." (IBNUMAJAH - 2269)
Bahkan kita dapat saksikan bahwa dewasa ini telah terjadi dekadensi di segenap aspek kehidupan sehingga Rasulullah menggambarkan situasi kita ini dengan gambaran yang sungguh sangat mewakili:
“Sungguh akan terurai ikatan Islam simpul demi simpul. Setiap satu simpul terlepas maka manusia akan bergantung pada simpul berikutnya. Yang paling awal terurai adalah hukum dan yang paling akhir adalah shalat,” (HR Ahmad 21139).
Jujur kita mesti mengakui bahwa dewasa ini seluruh ikatan Islam telah terurai sejak dari aspek hukum hingga aspek sholat. Dalam aspek hukum seolah ummat Islam sudah take it for granted menerima begitu saja diberlakukannya hukum buatan manusia sambil meninggalkan hukum Allah yakni hukum berlandaskan Kitabullah Al-Qur’an Al-Karim. Padahal perintah untuk hanya berhukum berlandasakn Kitabullah begitu jelas dan nyata Allah sebutkan di dalam Kitab-Nya:
“..dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Maidah 49)
Secara jelas Allah memerintahkan kita untuk memutuskan perkara (menetapkan hukum) menurut apa yang Allah turunkan (Al-Qur’an) dan jangan hendaknya kita mengikuti hawa nafsu manusia yang berusaha memalingkan kita dari hukum Allah tersebut. Bahkan Allah segera me-warning (memberi ancaman) bagi siapapun yang berpaling dari hukum Allah yaitu bahwa Allah akan menimpakan musibah disebabkan dosa keberpalingan tersebut. Ummat Islam dewasa ini dipaksa untuk hidup dalam kontradiksi. Di satu sisi banyak hal menurut hukum manusia dipandang legal padahal haram menurut Allah. Sebaliknya banyak pula perkara yang disebut ilegal namun menurut Allah justru halal. Inilah konsekuensi memberlakukan hukum manusia dan sengaja meninggalkan hukum Allah.
Jika demikian, masihkah perlu kita merasa heran mengapa begitu banyak musibah melanda masyarakat? Jika yang berpaling dari hukum Allah adalah kalangan awam ummat Islam, maka ini jelas merupakan suatu masalah. Namun dewasa ini keberpalingan tersebut telah melanda sebagian tokoh Ummat yang dikenal sebagai aktivis da’wah Islam bahkan sebagian Ulama...!! Alih-alih para tokoh tersebut mengingatkan masyarakat luas agar kembali kepada aturan dan hukum Allah, malah mereka turut menganjurkan ummat untuk terus tunduk dan patuh kepada hukum karya manusia. Malah ada sebagian tokoh itu yang dengan bangga mengambil posisi sebagai pemimpin masyarakat dimana hukum Allah masih diabaikan. Padahal Allah mengancam dengan vonis berat siapa saja yang memiliki otoritas namun tidak berhukum berdasarkan wahyu yang Allah telah datangkan:
”Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur'an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah-rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-An’aam 115)
Malah Allah juga dengan tegas menggambarkan karakter umum manusia yang amat zalim lagi amat bodoh. Sehingga alangkah naifnya bila manusia yang berkarakter dasar seperti itu kemudian berani merumuskan daftar legal dan illegal (baca: halal dan haram) untuk diberlakukan ke tengah masyarakat luas. Bagaimana mungkin manusia dapat memastikan apa perkara yang boleh dan tidak boleh diberlakukan di tengah masyarakat yang heterogen sebagai hasil karyanya kemudian menjamin bahwa hal itu akan mendatangkan keadilan dan merupakan kebenaran?
إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا
”Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS Al-Ahzab 72)
Ketika Allah Yang Maha Tahu menyatakan bahwa manusia itu amat zalim lagi amat bodoh, bagaimana mungkin kemudian kita bisa menerima bahkan meyakini bahwa produk hukum bikinannya akan mengandung keadilan dan kebenaran…? Itulah rahasianya mengapa Allah hanya menawarkan dua pilihan dalam kaitan dengan urusan hukum ini:
“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al-Maidah 50)
Dalam aspek penegakkan sholat tidak sedikit ummat Islam dewasa ini yang dengan ringannya meninggalkan kewajiban sholat. Padahal begitu berat dan menentukannya kedudukan sholat di dalam Islam.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Yang pertama kali dihisab (dihitung) dari perbuatan seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat; jika shalatnya baik maka dia beruntung dan selamat, dan jika shalatnya rusak maka dia merugi." (NASAI - 461)
Di lain sisi kalaupun sudah sholat masih sangat sedikit ummat Islam yang menegakkannya di masjid sambil berjamaah. Padahal sahabat Abdullah bin Mas’ud menggambarkan betapa buruknya penilaian para sahabat terhadap muslim yang tidak menghadiri sholat berjamaah di masjid.
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Dan kalau kalian shalat di rumah kalian sebagaimana seseorang yang tidak hadir di masjid, atau rumahnya, berarti telah kalian tinggalkan sunnah nabi kalian, sekiranya kalian tinggalkan sunnah nabi kalian, sungguh kalian akan sesat… Menurut pendapat kami, tidaklah seseorang ketinggalan dari shalat, melainkan dia seorang munafik yang jelas kemunafikannya (munafik tulen)." (MUSLIM - 1046)
Saudaraku, kondisi dunia dewasa ini membuktikan kebenaran hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa “Sungguh akan terurai ikatan Islam simpul demi simpul.” Bahkan saat ini praktis seluruh simpul telah terurai, sejak dari simpul hukum hingga simpul sholat. Inilah zaman sarat fitnah.
Saudaraku, menghadapi masa fitnah seperti dewasa ini tidaklah cukup kita hanya shaum Ramadhan secara tekstual yakni menjaga jarak dari makan, minum & hubungan badan dengan pasangan hidup. Inilah pengertian berpuasa sepanjang masa yang kita sudah sama ketahui. Namun secara kontekstual kitapun dituntut untuk shaum Ramadhan di Masa Fitnah dengan menjaga jarak dari berbagai fitnah zaman. Kita ditunutut untuk bara’ alias melepaskan diri dari ikatan nila-nilai Sistem Dajjal. Diperlukan kekuatan jiwa yang wala’ alias loyal sepenuhnya kepada Allah agar shaum Ramadhan di Babak Keempat Akhir Zaman tidak terseok-seok karena tarikan fitnah Sistem Dajjal yang begitu hegemonik.
Diperlukan tekad kuat untuk berlepas diri dari nilai-nilai kufur yang merebak dewasa ini. Jadilah mukmin yang sedemikian rindu dengan surga akhirat sehingga tidak bakal berhasil dirayu oleh surga dunia. Jadilah mukmin yang sangat takut akan neraka akhirat sehingga berbagai bentuk neraka dunia tidak bakal sanggup mengancam diri. Di antara kiat untuk menghadirkan jiwa seperti itu ialah memastikan setiap malam membaca dengan penuh perenungan dan keyakinan doa yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam ketika sholat Tahajjud:
Bila Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam bangun di waktu malam untuk sholat tahajjud beliau mengajukan doa berikut: "Ya Allah bagiMulah segala pujian. Engkaulah Yang Maha Memelihara langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya. Dan bagiMulah segala pujian, milikMu kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada pada keduanya. Dan bagiMu segala pujian, Engkau Cahaya langit dan bumi dan apa yang ada pada keduanya. Dan bagiMu segala pujian, Engkaulah Raja di langit dan di bumi. Dan bagiMulah segala puian, Engkaulah Al Haq (Yang Maha Benar), dan janjiMu haq (benar adanya), dan perjumpaan denganMu adalah benar, firmanMu benar, surga adalah benar, neraka adalah benar.” (BUKHARY 1053)
Catatan Dahlan Iskan, dirut PLN. Ada hal-hal menarik yang saya tangkap yaitu khusnudzon, sabar, bekerja keras, dan terakhir, tawakkal.
Dahlan Iskan: Risiko Dihujat
Listrik di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, padam. Heboh. Ribuan penumpang ngomel, marah, dan menghujat. Terutama menghujat PLN. Dan juga tentu menghujat saya. Apalagi, mati listrik itu terjadi pada waktu puncak-puncaknya: menjelang jam penerbangan pertama, di hari Jumat yang lebih ramai daripada hari apa pun, dan menjelang bulan puasa ketika banyak orang akan melakukan perjalanan suci berbakti kepada orang tua, termasuk ke kuburan mereka.
Nama PLN yang selama ini sudah buruk itu hancur lebur di Bandara Soekarno-Hatta pagi itu. Bahkan, hancur di mata seluruh bangsa Indonesia. Sebuah headline surat kabar yang memang biasa mengkritik PLN menulis: Byar-pet telah memalukan bangsa!
Sungguh masuk akal bila hari itu tidak ada satu pun orang yang berpikir bahwa mati lampu di bandara tersebut bukan kesalahan PLN. Masuk akal juga kalau tidak ada yang berpikir bahwa bisa saja instalasi listrik di dalam bandara itulah yang mengalami gangguan. Bahkan aneh sekali. Mengapa UPS yang mestinya otomatis mengambil alih daya listrik secara darurat itu tidak berfungsi.
Begitulah hukum alam. Seorang koruptor yang istrinya dua dan rumahnya mewah akan kelihatan lebih jahat daripada seorang koruptor yang lebih besar, tapi istrinya satu dan rumahnya biasa saja karena berhasil menyimpan uangnya di luar negeri yang tidak ketahuan siapa pun.
Ada cerita lainnya: kontraktor Jepang, Mitsubishi, mengerjakan pemborongan pembaruan pembangkit listrik di Muara Karang, Jakarta. Alat beratnya menghantam instalasi listrik dan membuat sebagian kawasan Jakarta padam. Hari itu nama PLN juga babak belur. Masyarakat Jakarta sudah trauma. Bisa-bisa akan berbulan-bulan lagi terjadi pemadaman bergilir. Meski hari itu listrik bisa dipulihkan dalam waktu lima jam, nama sudah telanjur hancur.
Orang tahunya PLN itu memang sudah parah. Tidak mungkin Mitsubishi bisa salah. Pasti PLN yang salah. Apalagi, pihak Mitsubishi yang semula sudah setuju untuk meminta maaf secara terbuka ke publik akhirnya menolak. Alasannya, kantor pusatnya di Tokyo tidak setuju. Saya memaklumi alasan itu karena begitu perusahaan itu meminta maaf akan sangat rawan gugatan. Siapa pun yang menggugat, Mistubishi akan langsung kalah. Sudah meminta maaf berarti sudah mengakui berbuat salah. Di mata Mitsubishi barangkali muncul logika ini: sekalian saja biar PLN yang salah.
Di kota Pematang Siantar (Sumatera Utara), masyarakat yang baru saja menikmati hilangnya pemadaman bergilir bertahun-tahun menghujat PLN lagi. Kali ini listrik di kota itu memang padam cukup luas. PLN hanya bisa menerima hujatan itu, meski mati lampu tersebut sama sekali tidak disangka-sangka. Hari itu seseorang yang lagi marah mengamuk membabi-buta. Itu terjadi karena jaringan di rumahnya diputus akibat ketahuan mencuri listrik. Diam-diam dia pergi ke suatu tempat yang vital. Mengamuk dan memutuskan jaringan penting listrik di sana. Polisi memang berhasil menangkap orang tersebut, tapi kekecewaan masyarakat yang listriknya mati tidak terobati.
Di Cianjur Selatan (Jawa Barat), masyarakat juga marah. Hari itu hujan angin luar biasa hebatnya. Disertai petir dan halilintar. Jaringan di Cianjur Selatan putus. Pemulihannya memerlukan waktu lebih dari lima jam.
Kali ini PLN benar-benar salah.
Setelah diperiksa, ternyata jaringan ini terlalu panjang tanpa dipasangi LBS di tengah-tengahnya. Jaringan itu panjangnya 15 kilometer tanpa LBS sama sekali. Seharusnya, setidaknya di tiap 3 kilometer dipasangi LBS. Dengan demikian, kalaupun listrik mati karena bencana alam, perbaikannya akan lebih cepat. Tidak harus membutuhkan waktu lebih dari lima jam seperti itu. Bahwa petugas harus memulihkan jaringan itu sambil mengarungi hujan badai, itu sudah biasa. Tapi, bahwa tidak ada LBS di tengah-tengah jaringan panjang itu memang kesalahan sistem di PLN.
Setelah kejadian itu, PLN di seluruh Indonesia diminta untuk memeriksa di mana saja ada jaringan yang terlalu panjang yang tidak dipasangi LBS. Rasanya tidak perlu dijelaskan apa itu LBS karena begitu banyak peralatan listrik yang memang sulit dijelaskan. Dan tidak perlu. Yang penting listrik jangan mati.
Ternyata memang banyak listrik mati akibat kesalahan sistem PLN seperti itu.
Yang terakhir ini kesalahan saya juga: Waktu saya ke Istana Bogor Jumat lalu, saya menyempatkan diri menemui dan berdialog dengan karyawan PLN di Bogor. Hari sudah malam. Di luar lagi hujan deras. Saat itulah radio panggil petugas PLN bersuara: Lima tiang listrik di lereng Gunung Salak roboh. Saya bertanya, jam berapa ini. Sekitar jam 22.00.
Saya terus mendengarkan dialog di pesawat komunikasi itu. Suaranya agak kurang jelas. Rupanya petugas di sisi sana lagi di tengah-tengah hujan. Dia sudah berusaha untuk bersuara sekeras mungkin, tapi masih kalah dengan suara angin ribut. ''Jurangnya dalam sekali,'' bunyi suara di radio komunikasi itu.
Dari seberang sana terdengar pertanyaan apa yang harus diperbuat. Jiwa saya terbelah. Di satu pihak saya membayangkan alangkah menderitanya masyarakat yang listriknya padam di lereng Gunung Salak itu. Di lain pihak saya bergulat dengan perasaan: Akankah saya memaksa petugas itu memulihkan tiang listrik di bibir jurang yang dalam di tengah kegelapan malam yang berhujan itu? Akankah saya harus mengorbankan jiwa mereka?
Saya tercenung agak lama. Kadang sebuah keputusan begitu sulitnya.
Bahwa PLN dan saya dihujat, baik akibat kesalahan sendiri maupun bukan, tidak bisa dihindari. Tidak ada resep yang lebih baik kecuali terus bekerja keras.
Saya hanya ingat ketika awal-awal membenahi Jawa Pos pada 1982. Waktu itu begitu lemahnya Jawa Pos sehingga orang Surabaya sendiri tidak tahu di mana alamat Jawa Pos di Jalan Kembang Jepun itu.
''Di mana sihJawa Pos itu?''
''Di depan Bank Karman,'' jawab saya.
Bank Karman. Begitu kecilnya bank itu, tapi masih lebih terkenal daripada Jawa Pos. Maka timbul dendam dalam jiwa saya: saya harus membuat Jawa Pos setidaknya akan menjadi lebih terkenal daripada Bank Karman! Kalau suatu saat ada yang bertanya di mana itu Bank Karman, akan saya jawab dengan gagah berani: di depan Jawa Pos!
Dendam yang sama kini muncul di jiwa saya. Saya harus membuat PLN lebih terkenal daripada Bandara Soekarno Hatta. Dengan demikian, kalau suatu saat ada mati lampu lagi di Bandara Soekarno-Hatta, orang tidak lagi menghujat PLN.
Kepingan-kepingan tembikar yang baru-baru ini ditemukan oleh para pakar ilmu purbakala di Gua Yuchanyan di Cina telah sekali lagi merobohkan pemikiran evolusionis mengenai sejarah. Menurut sebuah laporan di BBC News, usia pecahan-pecahan tersebut yang telah ditentukan dengan menggunakan 40 macam teknik Karbon-14 yang berbeda berkisar antara 17.500 dan 18.300 tahun. Keberadaan periuk setua itu merupakan sebuah kekalahan penuh, dalam istilah evolusinis, karena mereka menyatakan bahwa manusia memulai kehidupan beradab dan menetap pada masa yang mereka sebut sebagai Zaman Batu.
Evolusonis menyatakan bahwa manusia pertama adalah makhluk setengah-kera yang bentuk tubuh dan kemampuan akalnya berkembang seiring dengan perjalanan waktu, bahwa mereka mendapatkan keterampilan baru, dan bahwa peradaban berevolusi disebabkan oleh hal tersebut.
Menurut pernyataan ini, yang didasarkan pada ketiadaan bukti ilmiah apa pun, nenek moyang purba kita yang diduga ada itu menjalani hidup sebagai binatang, lalu menjadi beradab hanya setelah mereka menjadi manusia, dan menunjukkan kemajuan budaya seiring dengan bertambah majunya kemampuan akal mereka.
Gambar-gambar khayalan dari apa yang disebut sebagai Manusia purba, dengan tubuh yang seluruhnya tertutupi bulu binatang, atau sedang membuat api sembari jongkok di bawah kulit binatang, tengah berjalan di sepanjang tepi wilayah perairan sembari memanggul hewan yang baru saja dibunuh, atau sedang berusaha berkomunikasi dengan sesamanya menggunakan gerakan isyarat dan bersungut-sungut, adalah gambar rekayasa yang dilandaskan pada pernyataan tidak ilmiah ini.
Namun, temuan-temuan purbakala yang dihasilkan hingga kini dari Zaman Batu, di mana evolusionis menyatakan bahwa “manusia waktu itu baru saja belajar berbicara”, menunjukkan bahwa manusia di masa itu sudah menjalani hidup berkeluarga, melakukan bedah otak dan memahami seni lukis dan musik.
Oleh karena serpihan periuk berusia sekitar 18.000 tahun yang ditemukan di Gua Yuchanyan di Cina juga menampakkan tanda-tanda kehidupan yang berperadaban, maka ini pun membantah “urutan zaman-zaman sejarah” karangan evolusonis. Kepingan-kepingan mangkuk ini, yang usianya ditetapkan antara 17.500 dan 18.300 tahun, adalah sisa-sisa peninggalan tembikar tertua yang pernah ditemukan. Menurut pernyataan evolusionis, manusia semestinya belum menjalani hidup menetap di masa yang disebut sebagai Zaman Batu, dan mestinya hidup di gua-gua sebagai pemburu purba yang menggunakan perkakas yang terbuat dari batu.
Namun temuan-temuan purbakala secara ilmiah membuktikan justru sebaliknya. Pecahan-pecahan barang yang terbuat dari tanah liat yang ditemukan di Gua Yuchanyan itu secara telak menyingkap ketidakabsahan pernyataan evolusonis, yang sejatinya tidak lebih dari khayalan.
Biji-bijian padi juga ditemukan di gua yang sama di tahun 2005. Secara keseluruhan, temuan-temuan ini menunjukkan bahwa manusia yang hidup 18.000 tahun lalu telah bertani dan hidup berperadaban sebagaimana yang dilakukan manusia masa kini.
Kemajuan dan temuan seperti ini yang terjadi di cabang-cabang ilmu pengetahuan seperti arkeologi dan antropologi menyingkapkan bahwa “gagasan evolusi budaya dan masyarakat manusia” adalah sesuatu yang palsu. Temuan yang dihasilkan selama penggalian-penggalian purbakala dengan jelas menampakkan bahwa sejarah ditafsirkan oleh para ilmuwan Darwinis berdasarkan prasangka ideologi materialis. Dongeng “Zaman Batu” tidaklah lebih dari upaya kalangan materialis dalam rangka menampilkan manusia sebagai sebuah makhluk hidup yang berevolusi dari binatang yang tidak berakal dan memaksakan dongeng yang mereka yakini ini pada ilmu pengetahuan.
sumber : http://15meh.blogspot.com/2010/04/mangkok-china-kuno-patahkan-teori.html
Laki-laki itu. Tak satu pun pedagang dan peminta sumbangan yang melewatkan mejanya. Karena jika mereka menghampirinya, pasti akan ada sesuatu yang mereka terima. Tak pernah mereka pergi dengan tangan kosong. Seorang gadis kecil berjilbab, kulihat sering berkunjung dan keluar dari ruangannya menggenggam amplop.
Laki-laki itu. Adalah biasa baginya makan rujak dari bungkus yang sama dengan anak buahnya. Tak pernah menjadi masalah baginya bertanya,”Ada yang bawa kue/oleh-oleh, ya?“ dan kemudian mencomotnya. Sebagaimana tak masalah pula ketika para staf meminta dibelikan rujak atau makanan. Lembaran rupiah pun dengan ringan melayang.
Laki-laki itu. Ruang kerjanya terbuka untuk siapa saja. Tak ada istilah ruangannya adalah tempat istimewa yang tak boleh dijamah siapa pun. Tak ada kesan kebirokratisan sehingga anak buah dan rekan kerja menjadi sungkan. Hingga semua fasilitas di sana dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh anak buah: komputer, telepon, internet, bahkan bangku tamu pun dapat dijadikan tempat rapat, atau sekedar istirahat.
Laki-laki itu. Berbincang dan bercanda adalah salah satu kebiasaannya. Bahkan saling ledek dengan staf pun sesuatu yang biasa. Baginya tak ada bos dan bawahan. Karena semua adalah tim kerja, jabatan hanyalah sarana untuk mencapai tujuan lembaga. Maka dirinya menjadi dekat dengan siapa saja -dari pejabat hingga office boy- tanpa harus kehilangan wibawa.
Laki-laki itu. Adalah kebetulan aku sedikit mengenal keluarganya. Dan karenanya aku tahu bagaimana rumahnya menjadi tempat berlabuh bagi banyak orang. Dan karenanya aku tahu, bahwa ia adalah seorang yang ringan tangan, ringan hati dan dermawan terhadap sesama. Pertama kali aku mengunjungi tempat tinggalnya, aku sempat terpana: rumah itu terlalu sederhana untuk seorang ia. Namun toh, rumah itu telah pernah menjadi tempat singgah begitu banyak jiwa.
Laki-laki itu. Berbincang dari hati ke hati dengannya bukan sekali dua saja kulakukan. Sejak pertama kali aku mengenalnya sekitar 6 tahun yang lalu, saat ia menjadi pejabat level paling bawah di kantorku, ia sudah menjadi seseorang yang cukup dekat denganku, termasuk dengan staf-staf lain tentunya. Kedekatan dan keakraban itu bahkan hingga taraf konsultasi kehidupan pribadi. Bahkan pernah ada saat-saat ia membuatku menangis dengan menanyakan hal-hal yang terkait dengan kehidupan pribadi. Dan sejak itu, ia terus menjadi salah satu bagian hidupku di dunia kantor.
Laki-laki itu. Postur tubuhnya ideal. Gerak geriknya gesit. Usianya belum lagi 40 tahun meski rambutnya nyaris telah memutih semua, (mungkin) karena banyak berpikir keras. Dalam enam tahun itu, karirnya terus menanjak, sedang banyak orang lainnya masih tetap sama seperti sebelumnya, termasuk diriku. Dalam enam tahun itu, ia terus berkembang, dipercaya oleh banyak pihak dan kemudian menjadi seseorang yang terpercaya.
***
“Nduk! Piye kabarmu sak wise kawin?” Laki-laki itu dengan to the point menyampaikan pertanyaan itu begitu aku duduk di depan mejanya. Beberapa saat sebelumnya, ia melambaikan tangan memanggilku ketika aku lewat, meski aku bukan lagi anak buahnya. Panjang lebar, aku becerita tentang kondisi terakhirku setelah sebulan menikah. Dan dari lisannya kemudian mengalir nasehat-nasehat panjang tentang pernak-pernik pernikahan yang kudengar baik-baik meski sekali-kali kami timpali dengan canda. Itulah saat terakhir aku berbincang cukup banyak dengannya.
sumber : http://www.facebook.com/notes/yusuf-mansur-network/kisah-lelaki-ahli-sedekah/430102435209
Jika Nabi Muhammad datang ke rumahmu, Untuk meluangkan waktu sehari dua hari bersamamu, Tanpa kabar apa-apa sebelumnya, Apakah yang akan kau lakukan untuknya?
Akankah kau sembunyikan buku duniamu, Lalu kau keluarkan dengan cepat kitab hadits di rak buku? Atau akankah kau sembunyikan majalah-majalahmu, Dan kau hiasi mejamu dengan Al Qur’an yang telah berdebu? Akankah kau masih melihat film X di TV, Atau dengan cepat kau matikan sebelum dilihat Nabi? Maukah kau mengajak Nabi berkunjung ke tempat yang biasa kau datangi, Ataukah dengan cepat rencanamu kau ganti? Akankah kau bahagia jika Nabi memperpanjang kunjungannya, Atau kau malah tersiksa karena banyak yang harus kau sembunyikan darinya?
Jika Nabi Muhammad tiba-tiba ingin menyaksikan, Akankah kau tetap mengerjakan pekerjaan yang sehari-hari biasa kau lakukan? Akankah kau berkata-kata seperti apa yang sehari-hari kau katakan? Akankah kau jalankan sewajarnya hidupmu seperti halnya jika Nabi tidak ke rumahmu?
Sangatlah menarik untuk tahu Apa yang akan kau lakukan Jika Nabi Muhammad datang, mengetuk pintu rumahmu.
RENUNGAN "Demi Allah bukanlah kefakiran yang paling aku takutkan padamu tetapi aku takut dibukanya dunia untukmu sebagaimana telah dibuka bagi orang-orang sebelummu dan kamu akan berlumba-lumba mendapatkannya sebagaimana mereka berlumba-lumba, dan akan menghancurkanmu sebagaimana telah menghancurkan mereka."
Sebuah kisah yang terjadi di masa lampau, sebelum Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan. Kisah yang menggambarkan kepada kita pengertian amanah, kezuhudan, dan kejujuran serta wara’ yang sudah sangat langka ditemukan dalam kehidupan manusia di abad ini.
Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Ada seorang laki-laki membeli sebidang tanah dari seseorang. Ternyata di dalam tanahnya itu terdapat seguci emas. Lalu berkatalah orang yang membeli tanah itu kepadanya: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.”
Si pemilik tanah berkata kepadanya: “Bahwasanya saya menjual tanah kepadamu berikut isinya.”
Akhirnya, keduanya menemui seseorang untuk menjadi hakim. Kemudian berkatalah orang yang diangkat sebagai hakim itu: “Apakah kamu berdua mempunyai anak?”
Salah satu dari mereka berkata: “Saya punya seorang anak laki-laki.”
Yang lain berkata: “Saya punya seorang anak perempuan.”
Kata sang hakim: “Nikahkanlah mereka berdua dan berilah mereka belanja dari harta ini serta bersedekahlah kalian berdua.”
Sungguh, betapa indah apa yang dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Di zaman yang kehidupan serba dinilai dengan materi dan keduniaan. Bahkan hubungan persaudaraan pun dibina di atas kebendaan. Wallahul musta’an.
Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan, transaksi yang mereka lakukan berkaitan sebidang tanah. Si penjual merasa yakin bahwa isi tanah itu sudah termasuk dalam transaksi mereka. Sementara si pembeli berkeyakinan sebaliknya; isinya tidak termasuk dalam akad jual beli tersebut.
Kedua lelaki ini tetap bertahan, lebih memilih sikap wara’, tidak mau mengambil dan membelanjakan harta itu, karena adanya kesamaran, apakah halal baginya ataukah haram? Mereka juga tidak saling berlomba mendapatkan harta itu, bahkan menghindarinya. Simaklah apa yang dikatakan si pembeli tanah: “Ambillah emasmu, sebetulnya aku hanya membeli tanah darimu, bukan membeli emas.” Barangkali kalau kita yang mengalami, masing-masing akan berusaha cari pembenaran, bukti untuk menunjukkan dirinya lebih berhak terhadap emas tersebut. Tetapi bukan itu yang ingin kita sampaikan melalui kisah ini.
Hadits ini menerangkan ketinggian sikap amanah mereka dan tidak adanya keinginan mereka mengaku-aku sesuatu yang bukan haknya. Juga sikap jujur serta wara’ mereka terhadap dunia, tidak berambisi untuk mengangkangi hak yang belum jelas siapa pemiliknya. Kemudian muamalah mereka yang baik, bukan hanya akhirnya menimbulkan kasih sayang sesama mereka, tetapi menumbuhkan ikatan baru berupa perbesanan, dengan disatukannya mereka melalui perkawinan putra putri mereka. Bahkan, harta tersebut tidak pula keluar dari keluarga besar mereka. Allahu Akbar.
Bandingkan dengan keadaan sebagian kita di zaman ini, sampai terucap dari mereka: “Mencari yang haram saja sulit, apalagi yang halal?” Subhanallah.
Kemudian, mari perhatikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma:
“Siapa yang terjatuh ke dalam syubhat (perkara yang samar) berarti dia jatuh ke dalam perkara yang haram.”
Sementara kebanyakan kita, menganggap ringan perkara syubhat ini. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, bahwa siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar itu, bisa jadi dia jatuh ke dalam perkara yang haram. Orang yang jatuh dalam hal-hal yang meragukan, berani dan tidak memedulikannya, hampir-hampir dia mendekati dan berani pula terhadap perkara yang diharamkan lalu jatuh ke dalamnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menjelaskan pula dalam sabdanya yang lain:
“Tinggalkan apa yang meragukanmu, kepada apa yang tidak meragukanmu.”
Yakni tinggalkanlah apa yang engkau ragu tentangnya, kepada sesuatu yang meyakinkanmu dan kamu tahu bahwa itu tidak mengandung kesamaran. Sedangkan harta yang haram hanya akan menghilangkan berkah, mengundang kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menghalangi terkabulnya doa dan membawa seseorang menuju neraka jahannam.
Tidak, ini bukan dongeng pengantar tidur. Inilah kisah nyata yang diceritakan oleh Ash-Shadiqul Mashduq (yang benar lagi dibenarkan) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)
Kedua lelaki itu menjauh dari harta tersebut sampai akhirnya mereka datang kepada seseorang untuk menjadi hakim yang memutuskan perkara mereka berdua. Menurut sebagian ulama, zhahirnya lelaki itu bukanlah hakim, tapi mereka berdua memintanya memutuskan persoalan di antara mereka.
Dengan keshalihan kedua lelaki tersebut, keduanya lalu pergi menemui seorang yang berilmu di antara ulama mereka agar memutuskan perkara yang sedang mereka hadapi. Adapun argumentasi si penjual, bahwa dia menjual tanah dan apa yang ada di dalamnya, sehingga emas itu bukan miliknya. Sementara si pembeli beralasan, bahwa dia hanya membeli tanah, bukan emas. Akan tetapi, rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat mereka berdua merasa tidak butuh kepada harta yang meragukan tersebut.
Kemudian, datanglah keputusan yang membuat lega semua pihak, yaitu pernikahan anak laki-laki salah seorang dari mereka dengan anak perempuan pihak lainnya, memberi belanja keluarga baru itu dengan harta temuan tersebut, sehingga menguatkan persaudaraan imaniah di antara dua keluarga yang shalih ini.
Perhatikan pula kejujuran dan sikap wara’ sang hakim. Dia putuskan persoalan keduanya tanpa merugikan pihak yang lain dan tidak mengambil keuntungan apapun. Seandainya hakimnya tidak jujur atau tamak, tentu akan mengupayakan keputusan yang menyebabkan harta itu lepas dari tangan mereka dan jatuh ke tangannya. Pelajaran yang kita ambil dari kisah ini adalah sekelumit tentang sikap amanah dan kejujuran serta wara’ yang sudah langka di zaman kita.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarah Riyadhis Shalihin mengatakan: Adapun hukum masalah ini, maka para ulama berpendapat apabila seseorang menjual tanahnya kepada orang lain, lalu si pembeli menemukan sesuatu yang terpendam dalam tanah tersebut, baik emas atau yang lainnya, maka harta terpendam itu tidak menjadi milik pembeli dengan kepemilikannya terhadap tanah yang dibelinya, tapi milik si penjual. Kalau si penjual membelinya dari yang lain pula, maka harta itu milik orang pertama. Karena harta yang terpendam itu bukan bagian dari tanah tersebut.
Berbeda dengan barang tambang atau galian. Misalnya dia membeli tanah, lalu di dalamnya terdapat barang tambang atau galian, seperti emas, perak, atau besi (tembaga, timah dan sebagainya). Maka benda-benda ini, mengikuti tanah tersebut.
Kisah lain, yang mirip dengan ini, terjadi di umat ini. Kisah ini sangat masyhur, wallahu a’lam.
Beberapa abad lalu, di masa-masa akhir tabi’in. Di sebuah jalan, di salah satu pinggiran kota Kufah, berjalanlah seorang pemuda. Tiba-tiba dia melihat sebutir apel jatuh dari tangkainya, keluar dari sebidang kebun yang luas. Pemuda itu pun menjulurkan tangannya memungut apel yang nampak segar itu. Dengan tenang, dia memakannya.
Pemuda itu adalah Tsabit. Baru separuh yang digigitnya, kemudian ditelannya, tersentaklah dia. Apel itu bukan miliknya! Bagaimana mungkin dia memakan sesuatu yang bukan miliknya?
Akhirnya pemuda itu menahan separuh sisa apel itu dan pergi mencari penjaga kebun tersebut. Setelah bertemu, dia berkata: “Wahai hamba Allah, saya sudah menghabiskan separuh apel ini. Apakah engkau mau memaafkan saya?”
Penjaga itu menjawab: “Bagaimana saya bisa memaafkanmu, sementara saya bukan pemiliknya. Yang berhak memaafkanmu adalah pemilik kebun apel ini.”
“Di mana pemiliknya?” tanya Tsabit.
“Rumahnya jauh sekitar lima mil dari sini,” kata si penjaga.
Maka berangkatlah pemuda itu menemui pemilik kebun untuk meminta kerelaannya karena dia telah memakan apel milik tuan kebun tersebut.
Akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu pemilik kebun. Setelah mengucapkan salam dan dijawab, Tsabit berkata dalam keadaan gelisah dan ketakutan: “Wahai hamba Allah, tahukah anda mengapa saya datang ke sini?”
“Tidak,” kata pemilik kebun.
“Saya datang untuk minta kerelaan anda terhadap separuh apel milik anda yang saya temukan dan saya makan. Inilah yang setengah lagi.”
“Saya tidak akan memaafkanmu, demi Allah. Kecuali kalau engkau menerima syaratku,” katanya.
Kata pemilik kebun itu: “Kamu harus menikahi putriku.”
Si pemuda tercengang seraya berkata: “Apa betul ini termasuk syarat? Anda memaafkan saya dan saya menikahi putri anda? Ini anugerah yang besar.”
Pemilik kebun itu melanjutkan: “Kalau kau terima, maka kamu saya maafkan.”
Akhirnya pemuda itu berkata: “Baiklah, saya terima.”
Si pemilik kebun berkata pula: “Supaya saya tidak dianggap menipumu, saya katakan bahwa putriku itu buta, tuli, bisu dan lumpuh tidak mampu berdiri.”
Pemuda itu sekali lagi terperanjat. Namun, apa boleh buat, separuh apel yang ditelannya, kemana akan dia cari gantinya kalau pemiliknya meminta ganti rugi atau menuntut di hadapan Hakim Yang Maha Adil?
“Kalau kau mau, datanglah sesudah ‘Isya agar bisa kau temui istrimu,” kata pemilik kebun tersebut.
Pemuda itu seolah-olah didorong ke tengah kancah pertempuran yang sengit. Dengan berat dia melangkah memasuki kamar istrinya dan memberi salam.
Sekali lagi pemuda itu kaget luar biasa. Tiba-tiba dia mendengar suara merdu yang menjawab salamnya. Seorang wanita berdiri menjabat tangannya. Pemuda itu masih heran kebingungan, kata mertuanya, putrinya adalah gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tetapi gadis ini? Siapa gerangan dia?
Akhirnya dia bertanya siapa gadis itu dan mengapa ayahnya mengatakan begitu rupa tentang putrinya.
Istrinya itu balik bertanya: “Apa yang dikatakan ayahku?”
Kata pemuda itu: “Ayahmu mengatakan kamu buta.”
“Demi Allah, dia tidak dusta. Sungguh, saya tidak pernah melihat kepada sesuatu yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Ayahmu mengatakan kamu bisu,” kata pemuda itu.
“Ayahku benar, demi Allah. Saya tidak pernah mengucapkan satu kalimat yang membuat Allah Subhanahu wa Ta’ala murka.”
“Dia katakan kamu tuli.”
“Ayah betul. Demi Allah, saya tidak pernah mendengar kecuali semua yang di dalamnya terdapat ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
“Dia katakan kamu lumpuh.”
“Ya. Karena saya tidak pernah melangkahkan kaki saya ini kecuali ke tempat yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Pemuda itu memandangi wajah istrinya, yang bagaikan purnama. Tak lama dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang shalih, yang memenuhi dunia dengan ilmu dan ketakwaannya. Bayi tersebut diberi nama Nu’man; Nu’man bin Tsabit Abu Hanifah rahimahullahu, yang dikenal sebagai Al-Imam Abu Hanifah.
Duhai, sekiranya pemuda muslimin saat ini meniru pemuda Tsabit, ayahanda Al-Imam Abu Hanifah. Duhai, sekiranya para pemudinya seperti sang ibu, dalam ‘kebutaannya, kebisuan, ketulian, dan kelumpuhannya’.
Demikianlah cara pandang orang-orang shalih terhadap dunia ini. Adakah yang mengambil pelajaran? Wallahul Muwaffiq.
Facebook :Yusuf Mansur Network: Balasan Keadilan dalam Ber-Infaq
Monday, February 15, 2010 at 3:14pm
Meski memilih hidup miskin, Rasulullah tak pernah membenci kekayaan dunia. Beliau berwasiat, ‘’Jangan kalian mencaci-maki dunia. Dia adalah sebaik-baik kendaraan. Dengannya orang dapat meraih kebaikan dan dapat selamat dari kejahatan’’ (HR Ad-Dailami).
Misalnya Abdurrahman bin Auf. Dari total asetnya yang sekitar Rp 600 Milyar, sebagian besar diinfakkan fi sabilillah. Tiap hari, rumah Abdul Rahman tak pernah sepi pengunjung. Sepertiga penduduk Madinah datang ke pondoknya untuk membayar utang, sepertiga lainnya berkunjung untuk berutang, dan sepertiga berikutnya bersilaturahim sambil mengambil sedekah.
Bayangan enaknya jadi orang kaya seperti itu, empat belas abad yang lalu pernah dikemukakan beberapa sahabat di hadapan Khalifah Umar bin Khattab. Waktu itu Umar naik mimbar dan bertanya kepada jamaah, ‘’Kemukakan keinginan kalian.’’ Aku mengandaikan mendapat rumah yang dipenuhi dirham, lalu aku infakkan fi sabilillah, jawab seseorang. ‘’Utarakan keinginan kalian,’’ kata Umar lagi. ‘’Aku mengandaikan mendapat rumah yang dipenuhi emas, lalu aku infakkan fi sabilillah,’’ jawab seorang lainnya. ‘’Sampaikan keinginan kalian,’’ kata Umar lagi. ‘’Aku mengandaikan mendapat rumah yang dipenuhi permata, lalu aku infakkan fi sabilillah,’’ jawab seorang lagi. ‘’Apalagi selain itu?’’ kata orang-orang ketika Umar mengulangi pertanyaannya (Imam Bukhari dari Zaid bin Aslam, dalam Tarikh As Saghir: 29).
Cita-cita untuk kaya sehingga dengannya dapat berbuat kebajikan lebih banyak, bukan angan-angan sia-sia. Bahkan meski masih sebatas keinginan, ia sudah bernilai pahala. Sebagaimana dikatakan Nabi Muhammad saw: ‘’…. menanti-nanti (mengharap-harap) kelapangan (sehingga dengannya dapat berbuat kebajikan) adalah suatu ibadah’’ (HR Bukhari).
Syahdan, di suatu negeri ada seorang kaya raya, yang rajin beribadah dan beramal serta tidak sombong atau riya’. Ia banyak membangun rumah ibadah, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga-tetangganya yang miskin dan kekurangan, serta berbagai amal sosial lainnya. Di musim paceklik, ia membagikan bahan pangan dari kebunnya yang berhektar-hektar kepada banyak orang yang kesusahan. Salah satu yang sering dia bantu adalah seorang tetangganya yang miskin.
Dikisahkan, sesudah meninggal, si orang kaya ini masuk surga. Namun di luar dugaannya, mantan tetangganya yang amat miskin itu juga berada di level surga yang sama dengannya. Si kaya pun menegurnya:
“Allah Maha Pengasih kepada semua umat-Nya tanpa memandang kaya-miskin. Kalau boleh aku ingin tahu, amalan apa yang telah kau lakukan sehingga kita dapat bertemu di sini?”
“Aku mendapat pahala atas amalan membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga yang miskin dan kekurangan, serta berbagai amal sosial lainnya,” tutur mantan tetangga dengan mantap.
“Bagaimana mungkin?” Si kaya keherananan, ‘’bukankah waktu di dunia dulu kamu sangat miskin. Bahkan seingatku, untuk nafkah hidup sehari-hari saja kamu harus berutang kanan-kiri?”
“Itu memang benar,” jawab si miskin. “Cuma waktu di dunia dulu, aku sering berdoa: ‘Oh, Tuhan! Seandainya aku diberi kekayaan materi seperti
tetanggaku yang kaya itu, aku berniat membangun rumah ibadat, menyantuni anak yatim, membantu saudara, kerabat dan tetangga yang miskin dan banyak amal lainnya. Tapi apapun yang Kau berikan untukku, aku akan ikhlas dan sabar menerimanya.”
Jadi, jangan takut untuk bercita-cita kaya, dan baik.
Tapi memang, belum tentu kekayaan itu yang terbaik buat yang seseorang. Ingatlah akan kegelisahan Nabi: ‘’Aku tidak khawatir kalian ditimpa musibah dan melarat sepeninggalku. Yang aku takutkan, bila Allah membuka perbendaharaan kekayaan-Nya bagi kalian dan kalian menjadi lupa diri karenanya.’’
Sejumlah sahabat Nabi, pernah merasa ‘’kalah bersaing’’ dengan orang kaya dalam beramal. Abu Dzar ra mengisahkan, ada sekelompok sahabat dhuafa mengadu ke Rasulullah. “Wahai Rasulullah,’’ kata mereka, ‘’orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, tapi mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.”
Rupanya kelompok orang itu salah sangka pada Allah Swt. Benar, Allah Swt membeda-bedakan kekayaan hamba-hamba-Nya. “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia angkat sebagian kamu atas sebagian lain derajatnya untuk menguji kamu pada rezeki yang diberikan kepada kamu…. ” (QS Al Anaam:165).
Tapi, bukan berarti harta kekayaan menjadi satu-satunya alat beramal saleh. Kepada para sahabat tadi, Nabi menjelaskan, “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sungguh pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah, dan pada setiap tahlil ada sedekah; Menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi istrimu juga sedekah.”
Kelompok sahabat tadi kaget dan berkata, “Ya Rasulallah, apakah kegiatan memenuhi kebutuhan syahwat pun berpahala?” Rasul menjelaskan, “Apa pendapatmu, bila ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, ia akan mendapatkan pahala” (HR Muslim).
Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang disodorkan ke mulut isterinya (HR Ahmad dan Abu Dawud). Dan, ‘’siapa yang ridho dengan rezeki yang sedikit dari Allah maka Allah akan ridho dengan amal yang sedikit dari dia, dan menanti-nanti (mengharap-harap) kelapangan adalah suatu ibadah.’’ (HR Bukhari).
Abu Hurairah ra mengisahkan, seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw lalu berkata, ‘’Wahai Rasulallah, sedekah manakah yang paling agung?’’ Jawab Nabi, ‘’Engkau bersedekah ketika engkau sehat lagi kikir dan sangat memerlukannya, engkau takut miskin dan sangat ingin menjadi kaya.’’ (HR Muslim).
Ketika Nabi menyerukan penghimpunan dana untuk mengirim ekspedisi jihad, para sahabat berbondong-bondong datang menyerahkan sebagian hartanya. Di antaranya Abdurrahman bin Auf, yang berkata, ‘’Aku mempunyai uang 4000 dirham. Yang 2000 untuk nafkah keluargaku, 2000 lagi untuk kuinfakkan.’’
‘’Semoga Allah menerima yang engkau infakkan, dan memberkahi yang engkau sisakan untuk keluargamu,’’ sambut Nabi.
Lalu datang seorang Anshar membawa dua gantang kurma. ‘’Wahai Rasulullah,’’ katanya sembari menghapus keringat di wajahnya. ‘’Aku baru saja mendapat upah dua gantang kurma. Ini yang segantang aku infakkan, sisanya kuberikan untuk keluargaku.’’
Menyaksikan kesederhanaan pemberian orang Anshar itu, orang-orang munafik menertawakannya. Nabi murka pada kelakuan munafikin. Bersamaan dengan itu turunlah ayat 79 Surat At Taubah yang mencela perbuatan kaum itu dan memuji pengorbanan sahabat Nabi betapapun sederhananya
Assalamu'alaykum... Taqobalallahu minna wa minkum.. Shiyamana wa shiyamakum.. Mohon maaf lahir dan bathin... Selamat menjalankan ibadah di Bulan Syawal :)